Wednesday, November 24, 2010

Jangan hanya melihat dengan mata

(Copas from Imelda Hanna Pradipta's Facebook)

Tidak semua hal itu seperti bagaimana tampaknya. Terkadang kejadian di sekitar kita juga begitu. Jika kamu memiliki iman, kamu harus percaya bahwa semua hal merupakan keberuntunganmu.
Dua malaikat yang sedang melakukan perjalanan ke luar kota, singgah pada rumah seorang yang kaya raya. Keluarga tersebut kasar dan tidak mengijinkan kedua malaikat tersebut tidur di dalam rumah besar mereka. Sebagai gantinya, mereka menyuruh kedua malaikat tersebut tinggal di gudang bawah tanah mereka yang dingin, kotor dan tanpa pemanas.

Ketika sedang menyiapkan tempat tidur mereka, malaikat yang lebih tua melihat sebuah lubang di dinding, lalu memperbaikinya. Ketika malaikat yang lebih muda bertanya, malaikat yang tua itu menjawab, "Tidak semua hal itu sebagaimana tampaknya."

Malam berikutnya, kedua malaikat tersebut menginap di sebuah keluarga petani yang miskin, tetapi sangat ramah. Setelah berbagi makanan yang serba sedikit, pasangan petani tersebut mempersilahkan kedua malaikat tersebut tidur di tempat tidur mereka, sedangkan mereka sendiri tidur di lantai.

Ketika matahari muncul di ufuk timur keesokan paginya, mereka menemukan pasangan petani tersebut sedang menangis sedih. Ternyata, sapi yang merupakan satu-satunya sumber penghidupan mereka, yang memberikan susu setiap pagi, tergeletak mati di pinggir ladang mereka.

Malaikat muda menjadi marah dan mencaci maki malaikat tua, katanya, "Mengapa engkau tega melakukan semua ini kepada mereka ? Mengapa engkau membiarkan semua ini terjadi ? Kemarin kita mendapat kesempatan untuk menginap di rumah seorang kaya raya. Kita dibiarkan tidur di gudang yang kotor dan dingin, tetapi kamu masih membantu mereka dengan memperbaiki dindingnya yang bolong. Malam ini kita menginap di rumah seorang petani miskin yang begitu ramah dan mau berbagi, tetapi apa yang kamu lakukan ? Kamu biarkan sapi yang merupakan satu-satunya sumber hidup, mati. Maumu apa, sih ?" Malaikat tua menjawab singkat, "Tidak semua hal itu sebagaimana tampaknya."

Ketika malaikat muda mendesak untuk menjelaskan, malaikat tua berkata, "Waktu kita menginap di tempat orang kaya kemarin, aku melihat sebuah lubang di dinding. Di dalamnya ada kepingan emas. Tetapi karena orang kaya tersebut sangat tamak, tidak mau berbagi, dan tidak bisa ramah kepada orang lain, maka dinding tersebut kututup. Biar mereka tidak tahu dan tidak dapat mengambil emas tersebut. Lalu malam ini, ketika kita tidur di ranjang Pak Tani, dan mereka mengalah tidur di lantai, malaikat maut datang hendak mengambil isteri petani itu. Tetapi aku belokkan dan sebagai gantinya, malaikat maut itu mengambil sapi Pak Tani."

Tidak semua hal itu seperti bagaimana tampaknya. Terkadang kejadian di sekitar kita juga begitu. Jika kamu memiliki iman, kamu harus percaya bahwa semua hal merupakan keberuntunganmu, meskipun mungkin kita tidak menyadarinya. Orang yang datang dan pergi begitu saja dalam kehidupan kita, ada yang menjadi teman, dan ada pula yang tinggal hanya sekejap, tetapi meninggalkan kenangan manis dalam kehidupan dan hati kita. Dan kita tidak pernah menjadi sama, karena kita telah berteman dengan banyak orang.

Baca Sebelum Terlambat: Saya Mencintai Engkau

(Copas from Imelda Hanna Pradipta's Facebook)

Rumah sakit ditempat saya bekerja, biasanya sangat sepi pada bulan Januari. Saya berada di ruang suster jaga di lantai tujuh. Saat itu sudah jam 9 malam.

Saya sampirkan stethoscope melingkari leher saya dan menuju kamar 712, kamar terakhir dari lantai 7. Kamar 712 dimasuki pasien baru bernama Tuan Williams, seorang laki laki yang pendiam dan tidak menceritakan tentang keluarganya.

Pada saat saya memasuki kamar, matanya sepertinya ingin tahu siapa yang datang, tetapi akhirnya sayu ketika mengetahui saya yang memasuki kamar tersebut. Saya tekan stethoscope ke dadanya dan mendengarkannya. Cepat, perlahan, kadang kadang tidak beraturan.

Ada indikasi bahwa dia menderita sedikit. Ia menderita serangan jantung beberapa jam yang lalu.
Lalu ia berkata, “Suster, maukah kamu..”, lalu ia terdiam, dan dari kelopak matanya mengalir air mata, saya sentuh tangannya menunggu kelanjutan bicaranya, lalu ia mengusap airmatanya dan berkata, “Maukah engkau menelpon anakku dan memberitahukannya bahwa aku terkena serangan jantung.. saya tinggal sendirian, dan dia adalah satu satunya sanak saudara saya.” Pernafasannya tiba-tiba saja mencepat, lalu aku naikkan kadar oxigennya menjadi 8 liter permenit.

Lalu saya katakan, “Tentu saja saya akan telpon dia”, sambil memperhatikan mukanya.Dia menarik sprei, sehingga dia dapat maju, dari air mukanya terpancar rasa penting sekali, dan berkata “Maukah engkau memanggilnya sekarang? Secepat engkau bisa?” Ia bernafas cepat, terlalu cepat.“Saya akan menelepon dia secepatnya”, kata saya sambil menepuk pundaknya, lalu saya menuju pintu, mematikan lampu, dan ia menutup mata dari wajah yang sudah berusia 50 tahun itu.

Sebelum saya sampai ke pintu bapak itu memanggil saya lagi “Suster, bisakah anda memberikan saya kertas dan pen?” Lalu saya ambil kertas bekas berwarna kuning, dan pen dari kantong saya, lalu meninggalkan kamar tersebut menuju ruang suster jaga.

Lalu saya mencari berkas Tuan William, dan mendapatkan nomor telpon anak Tuan Williams dari sana lalu saya mulai meneleponnya. Suara yang halus menjawab.“Janie ini Sue Kidd, suster dari Rumah sakit, Saya menelepon kamu tentang ayah kamu, dia masuk Rumah sakit sore ini karena sedikit serangan jantung dan …”“Oh tidak!” ia menjerit mengagetkan saya. “Dia tidak dalam keadaan sekarat kan?”“Sekarang dalam keadaan stabil,” jawab saya. Semua terdiam, dan saya menggigit bibir saya.“Kau tidak boleh membiarkan dia mati!” katanya. Suaranya begitu sedih, membuat tangan saya gemetar memegang gagang telepon itu.“Ia dalam penanganan yang paling baik”, jawab saya.“Tapi kamu tidak mengerti,” jawabnya. “Ayah dan saya tidak pernah bicara. Pada ulang tahun ke 21 saya, kami berkelahi, mengenai pacar saya, lalu saya kabur dari rumah. Saya tidak mau kembali. Beberapa bulan ini saya ingin menemuinya untuk meminta maaf, dan kalimat terakhir yang saya katakan kepadanya adalah aku membencimu!”.Saya mendengar Janie terisak isak.

Saya duduk, mendengarkan dan air mata saya membakar mata saya. Seorang ayah dan anak, masing masing sangat kehilangan, sehingga membuat saya memikirkan ayah saya yang jauh, dan sudah lama rasanya saya tidak mengatakan aku sayang Papa.Ketika Janie berusaha mengendalikan tangisnya, saya dalam hati berdoa, “Tuhan biarkan anak ini menemukan pengampunan.”“Saya datang dalam 30 menit,” katanya dan klik! Sambungan telepon terputus.

Saya berusaha menyibukkan diri dengan merapikan kembali file file di meja, tetapi saya tidak bisa ber konsentrasi. Kamar 712! Ya saya tahu saya harus kembali ke kamar 712!Saya setengah berlari kekamar 712 dan secepatnya membuka pintu. Tuan Williams terbaring tidak bergerak, dan saya mengecek denyut nadinya. Tidak ada!

“Kode 99, kamar 712. Kode 99. Stat.”, pemberitahuan tersebut terdengar di seluruh rumah sakit dalam sekejab, sesudah saya laporkan ke Dokter jaga.Tuan William terkena serangan jantung! Dengan secepatnya saya membuat nafas buatan dua kali, lalu menaruh tangan saya di jantungnya dan mulai memompa dadanya. Saya menghitung Satu, Dua,Tiga. Pada hitungan ke 15 saya kembali membuat nafas buatan. Kemanakah bantuan Dokter? Lalu saya lakukan kembali memompa jantungnya.

Saya berkata Oh Tuhan jangan biarkan orang ini mati anaknya sedang dalam perjalanan, dan jangan biarkan berakhir seperti ini. Pintu kamar terbuka lebar, Dokter dan suster lainnya masuk, dan mendorong alat alat bantu. Dokter langsung mengambil alih memompa jantung.Saya berkata, “Tuhan, jangan biarkan berakhir seperti ini, jangan dalam keadaan kepahitan dan kebencian. Anaknya dalam perjalanan, dan biarkan dia mendapatkan kedamaian.”“Mundur” teriak seorang dokter.

Saya menyerahkan kepadanya pengejut lisrik, lalu ia taruh di dada tuan Williams beberapa kali kami lakukan, tetapi tidak berhasil, Tuan Williams sudah meninggal.Suster yang lain mencopotkan selang oksigen, dan alat alat dari tubuh Tuan Williams, kemudian satu persatu meninggalkan ruangan tersebut, hanya tinggal saya sendiri sambil bergumam, “Bagaimana hal ini bisa terjadi? Bagaimana? Bagaimana saya menghadapi anaknya?”

Ketika saya keluar dari kamar tersebut, saya melihat seseorang berdiri di dekat air mancur, dokter yang tadi berada dikamar 712 berdiri disampingnya, berbicara dengannya sambil memegang bahunya. Lalu dokter itu pergi, meninggalkannya. Dan saya menduga bahwa orang tersebut adalah Janie. Janie langsung menyandarkan badannya ke dinding. Rasa terpukul terlihat dari wajahnya. Dokter telah memberitahukan bahwa ayahnya telah pergi.Saya menggandeng tangannya dan membawanya ke ruangan suster. Kami duduk di bangku hijau tanpa berkata apa-apa. Ia menatap tajam kalender, dengan tatapan kosong.“Janie, maafkan saya”Lalu Janie menjawab, “Saya tidak pernah membencinya, kamu tahu, saya mencintainya”.Dalam hati saya berkata “Tuhan tolong Janie”Tiba tiba Janie berkata, “Saya mau melihat ayah saya”.Dalam pikiran saya mengatakan Mengapa engkau ingin menambah kepedihan? Melihat ayahnya hanya akan menambah kesedihan. Saya berdiri, dan merangkulnya, lalu kami berjalan perlahan lahan menuju pintu kamar 712.

Sebelum masuk kamar, saya memegang tangan Janie sedikit keras, berharap agar Janie akan berubah pikiran. Janie membuka pintu kamar, dan kami menuju ke arah tempat tidur. Janie duduk dipinggir tempat tidur, dan membenamkan mukanya ke seprai. Saya berusaha untuk tidak melihat Janie pada saat seperti ini, sedih, sedih ditinggalkan seseorang dicintainya, yang telah lama tidak bertemu.

Saya bersandar ke meja disamping tempat tidur, dan tangan saya menyentuh ke sepotong kertas kuning, saya ambil dan membacanya:Janie ku sayang,Aku memaafkanmu. Aku berdoa agar engkau juga Memaafkanku. Aku tahu engkau mencintaiku. Aku mencintai engkau juga.Ayah.Kertas itu membuat tangan saya bergetar ketika saya menyerahkannya kepada Janie. Janie membacanya sekali, kemudian dua kali, wajahnya perlahan-lahan bersinar, kedamaian mulai terpancar dari matanya.Kemudian ia memeluk kertas tersebut.

Kataku “Terima kasih Tuhan” sambil melihat ke arah jendela.Beberapa bintang terlihat bersinar di kegelapan malam. Butiran salju jatuh dijendela dan mencair, pergi selamanya. Kehidupan terlihat sama rapuhnya seperti butiran salju. Terima kasih Tuhan, bahwa Hubungan seringkali dapat rapuh seperti butiran salju, tetapi dapat diperbaiki kembali, walaupun tidak ada waktu yang indah yang dialami bersama. Saya bergegas keluar dari kamar, dan menuju telepon. Saya ingin menelepon ayah saya, dan mengatakan “Saya mencintai engkau”

NB: tokoh Ayah bisa diganti Ibu ( intinya adalah orang tua ) ^^

Undesirable No.1

Heyy! Have you guys watched the newest Harry Potter's movie, Harry Potter 7: Harry Potter and The Deathly Hallows? I did! I don't wanna spill it out because I know many people haven't watched it yet, but I'll just give you a hint: it rocks! I wanna show you two pictures:

1. Maybe you're familiar with this picture


2. But this?


Hahahahahahaha.. I'm crazy about the movie! ^^ It's a must watch, highly recommended!! (I've said this many times since I watched it yesterday after my first final exam - Medical Statistics). It would've been more awesome if it come in 3D though..

Happy watching! =)

Monday, November 15, 2010

One Flaw in Women

Women have strengths that amaze men.....
They bear hardships and they carry burdens,
but they hold happiness, love and joy..

They smile when they want to scream.
They sing when they want to cry.
They cry when they are happy
and laugh when they are nervous.

They fight for what they believe in.
They stand up to injustice.
They don't take "no" for an answer
when they believe there is a better solution.

They go without so their family can have..
They go to the doctor with a frightened friend.
They love unconditionally.

They cry when their children excel
and cheer when their friends get awards.
They are happy when they hear about
a birth or a wedding.
Their hearts break when a friend dies.
They grieve at the loss of a family member,
yet they are strong when they
think there is no strength left.
They know that a hug and a kiss
can heal a broken heart.

Women come in all shapes, sizes and colors.
They'll drive, fly, walk, run or e-mail you
to show how much they care about you.

The heart of a woman is what
makes the world keep turning.
They bring joy, hope and love.
They have compassion and ideas.
They give moral support to their
family and friends.

Women have vital things to say
and everything to give.

HOWEVER, IF THERE IS ONE FLAW IN WOMEN,

IT IS THAT THEY FORGET THEIR WORTH.




(Forwarded from an e-mail from a lovely friend, Jean Bury Weymier)
You are allowed to pass this along to all your women friends and relatives to remind them just how amazing they are :)

new favorit quote :

God doesn't give you the people you want; He gives you the people you NEED. To help you, to hurt you, to leave you, to love you and to make you into the person you were meant to be :)

15.12.2010

heyy! today is the first snow in December! ^^


My black e-bike was covered with a thin layer of snow! Glad that I parked it outside lol.


Never miss any chance for pictures! Hahahhaha..

I really hope that we could have a white christmas this year! >.<

"The" concert! ♥Leehom♥

I just got back from a concert!! A real concert! For the first time in my life, I went to a concert, hahhaha..
It was all because we could get the ticket freely from China mobile - the tickets actually cost from 180RMB to 1080RMB. We were very excited to go to the concert because it was starring Leehom! Do you know Leehom??

 

Oh yes, that is Leehom (王力宏). He's an American-born singer-songwriter, record producer, actor and film director of Chinese descent based in Taiwan.

And also Alan Luo (罗志祥) :


There were more celebs, such as Karen Mok, Soda Green, and two other singers - one was from Singapore and the other one was Chinese.

Actually, there were none of them that I really really like. I just know that Karen Mok is a very famous actress, and of course I know Alan Luo and the handsome Leehom. Leehom was the only motivation of us going :D

Soda Green opened the concert very well. I think I'm starting to like them, because their songs are okay & the vocalist's voice is good. The second performance was Alan Luo. He was so handsomee, more handsome than we usually see on TV or films! He dances well, too.

I didn't like Karen Mok's performance and the other performances were so so, as well. The last performance - the best one! - that people had been waiting for since the very first performance was Leehom, for sure!! I'm not his big fan, but I do like him, because he's handsome, sweet, has good voice and musicality, plays piano beautifully, etc etc, haha.. Eventhough I'm not his big fan, I was going crazy during his performances! Me and my flatmate - Melisa - went crazy, shouting his name, singing his songs, till I lost my voice. He was so handsome, he's just amazing and awesome no matter what he did, LOL :p

It felt good, though, going to a concert. It was the first time for all of us - me, Melisa, Marfen, and Fani. Some of Melisa's friends from her church were also coming with us - they are Leehom's big fans. They're Malaysian & American! I thought Americans never know & will never like Chinese stars or songs. Well, Leehom is not Chinese, anyway, so maybe we can take him as exception :D

The concert was so under control - nobody got hurt, nobody broke the rules such as climbing the gates, etc. However, when we tried to get in into the bus that would take us back to dormitory, that was when everything was out of control. Waaaaayyyy too many people wanted to get into the bus because it was 10:30 pm already, that people pushed each other. I was pushed so hardly, my back hurt, I could hardly breath. But still, luckily I could get into the bus & reach dorm safely. Pheww! What a "wild" experience!

It was a totally crazy experience, yet nice one :) More and more things I've done in China that I've never done in Indonesia before and probably I would never do back home. Now I'm having fever: Leehom Fever!!! Hahahahahahaha..

Leehom ohh Leehom! ♥

Friday, November 12, 2010

Ten Commandments of Success

Heyyy!! I knowww, it's been sucha looooongggg timeee! Not only I was busy with the Indonesian Festival thingy, there were also too many things I gotta do, and I didn't have time to go online.. My internet was having problem too, that I couldn't use it for several days.. Hufft..

This time I wanna share an interesting stuff I found in my dorm. When I just moved into my "new" dorm, there was a paper glued on the door of my bedroom. Some Indian seniors were living here before. We - me & my roommate - found it but we think this paper is a good stuff, that was why we just let it be.

The paper is about The Ten Commandments of Success :
1. Speak to people : There is nothing as nice as a cheerful greeting.
2. Smile : It takes 72 muscles to frown; only 14 to smile.
3. Call people by name : Everyone is pleased when you remember their names.
4. Be friendly and helpful and others will respond in like manners.
5. Speak and act as if everything you do were a genuine pleasure.
6. Be genuinely interested in people.
7. Be generous with praise; be cautious with criticism.
8. Be considerate with the feelings of others, it will be appreciated.
9. Be thoughtful of the opinions of others.
10. Be willing to give services, what counts most in life is what we do for others.


Good stuff, eh? Hopefully I can do it in my daily life, hehe..