Thursday, December 2, 2010

My Superman and Wonder Woman

Sabtu pagi kemarin (27 November 2010), aku dibangunin oleh telepon dari cc di Indonesia, mengabarkan kalo Ko Tiu (paman, suami dari ccnya papa) meninggal.

Ko Tiu aku adalah seorang dokter, yang praktek persis di seberang rumahku. Bahkan dulu dia praktek di rumahku. Dia adalah seorang yang tertutup, tidak terlalu mudah bersosialisasi dengan sembarang orang, tapi banyak orang yang menaruh respek dan segan padanya. Meski begitu, ga tau kenapa, tapi sejak kecil aku merasa bahwa dia sayang sama aku.

Menurut aku, dia adalah seorang dokter yang baik. Bukan karena dia itu pamanku sendiri, tapi banyak orang juga bilang begitu. Dia ga segan dan sombong untuk share pengetahuan dia sama pasien-pasiennya. Dia jelasin penyakit yang diderita pasien-pasiennya dengan detail, hal yang mungkin jarang dilakuin oleh dokter-dokter di Indonesia. Dia ga sekedar kasih obat dan nyembuhin penyakit, tapi dia jelasin juga penyebab, mekanisme, dll. At least itu yang dia lakuin ke aku dan papaku. Pokoknya, tiap kali ngobrol-ngobrol sama dia, aku seakan kaya lagi ikut seminar gratis ato dapet lecture di kelas. Bahkan much more useful than my regular classes. Banyak knowledge dan advice yang dia kasih buat aku.

He was as healthy as hell. Tiap siang setelah bangun tidur dia pasti berolahraga selama beberapa menit di dalam rumah, pokoknya always looked perfect deh. Makanya, waktu tau dia sakit kanker prostat akhir tahun lalu, aku kaget. Apalagi waktu aku liat kondisi dia liburan awal tahun ini (Januari 2010). He changed a lot. Kanker prostat menggerogoti badannya. Sedih banget rasanya ngeliat dia kaya gitu. Yet, dia tetep seorang dokter & paman yang share everything about medical or health with me & my dad. Masih dengan semangatnya bagi-bagi tips dan advice ke kami berdua. Cuman, udah banyak hal yang udah ga bisa dia lakuin sendiri, semuanya harus dibantu orang lain. Dan, harus berhenti praktek. Aku inget banget kenangan-kenangan terakhir sama dia waktu aku pulang Januari lalu. Dia sempet minta tolong aku tulis e-mail ke temen baiknya yang ada di China. Sempet ngerayain Sincia bareng-bareng keluarga besar di rumah dia. Dan yang paling ga akan aku lupa, dia kasih aku stethoscope. My first stethoscope. I'm feeling grateful and lucky that I was at home that time, and bisa punya kenangan-kenangan terakhir tentang dia.

Meskipun akhirnya perjuangan dia melawan kanker harus berhenti hari itu, tapi selalu ada berkah di balik semuanya. Tuhan memang udah mengatur semuanya dengan indah dan dengan timing yang perfect. Setelah sekian lama, akhirnya dia mau menerima Tuhan dan dibaptis seminggu sebelum meninggalnya. Don't you see how good God is? Buat aku dan keluargaku, itu sebuah misteri yang indah dan patut disyukuri.

Siapa orang yang selalu ada di sisi Ko Tiu aku di masa-masa penderitaan dan perjuangannya melawan penyakitnya? Siapa yang selalu membantu dia di saat dia udah ga berdaya melakukan segala sesuatu, bahkan untuk bangkit dari tempat tidurnya? Siapa lagi kalo bukan istrinya. Yang dengan setianya sampai akhir menemani suaminya, merawat dan mencintai suaminya. Buat aku, itu luar biasa. Sama persis seperti papaku, yang dengan tegar dan setia ada di sisi mama, merawat dan mensupport mama sampai akhir hidupnya. Mereka adalah wonder woman dan superman, dan aku beruntung plus bangga punya papa dan tante kaya mereka. Sungguh, figur seorang suami dan seorang istri yang baik. Aku cuma berharap aku bisa jadi pasangan sebaik mereka untuk pasangan hidupku nantinya. Sesetia dan setegar mereka, apapun yang terjadi.

Be tough, Kuku Tjen. Stay strong, papa. You've done the best and I'm sure they are happy right now, having an eternal life, without any pain anymore. They are watching us up there :) We'll always miss them, but they'll always stay with us. In our hearts.

I love you both and may God always bless you 

No comments:

Post a Comment