Thursday, July 28, 2011

Madre

Recently, I'm in love. I'm in love with one person & one thing at the same time. The person is my newly-born nephew, Baby Mika. Everyday I miss him. Even right after going back from his house, I will miss him very soon again. Haha.. And the other one is Dewi Lestari - Dee - 's newest book, "Madre".

Let's talk about books. Novels, particularly.

Dari kecil, aku suka banget baca buku. Even waktu TK kata mama aku udah baca Femina, hahaha.. Ceritanya, aku kan udah belajar baca nulis dari umur 2.5 taon. Pas umur 5, aku belom diterima di SD tempat aku daftar. Umurku belum cukup, katanya. Maklum lah, sekolah Katolik emang terkenal strict soal umur. Terpaksa aku masuk TK lg sebelum akhirnya bisa masuk SD. Karena udah bisa baca nulis - sementara temen2ku masih pada belajar alphabet - aku bosan. Makanya aku ampe bacain tuh buku2 & majalah2 mama. Itulah awalnya kenapa mama ngelesin aku inggris & mandarin dari kecil. Biar aku ada kerjaan en ga bacain buku2 yg aneh2, hahaha..

Hobiku berlanjut sampe aku gede. Waktu SMP-SMA, aku suka bacain Teenlit. Mulai dari Princess Diaries-nya Meg Cabot, sampe karangan penulis lokal. Novel2 luar pun aku lahap, contohnya Harry Potter. Mau pinjem Harry Potter 1-7? Aku punya lengkap! Hehe.. Tapi lama2, seiring bertambahnya usia *ceileeh* udah mulai ga cocok tuh ama Teenlit, haha.. Berpindahlah ke Chicklit. Tapi aku jadi lebih suka penulis lokal. Jalan cerita & gaya bahasanya lebih cocok sama seleraku, lebih nyambung sama kehidupan sehari2 jg. Novel luar negeri pun masih tetep jalan. Tapi aku belum punya any favorite writer yet. Asalkan benda itu bernama "novel" en punya judul ato sinopsis menarik, ato dapet referensi dr temen, aku lahap semua.

Sampe taon lalu, Evan nawarin minjemin Perahu Kertas-nya. Dari dan sejak itulah, aku jatuh cinta sama novel itu. Dan pengarangnya, tentunya. Lahir dari mana, sebuah novel keren, kalo bukan dari pengarang yg hebat? Dewi Lestari. Dee. Aku udah pernah menjelaskan secara panjang dan lebar dikali tinggi tentang kenapa aku suka Dee. Bahasanya, puitis tapi realistis. Bukan puitis yg melayang entah kemana perginya. Realistis dan nancep. Ngena banget.

Tapi bukan berarti terus aku cinta mati sama Dee dan jadi suka SEMUA novelnya Dee. Honestly speaking, nggak. Nggak semuanya. Aku ga gitu suka ama Rectoverso-nya. Bukannya jelek, tp kurang ngena buat akunya. Aku tuh sukanya yg ada jalan ceritanya, sedangkan Rectoverso itu kumpulan cerita pendek, bahkan kalo aku boleh bilang, cerita SUPER pendek. Banyak puisinya. Dan dengan bahasa tingkat dewi-nya seorang Dewi Lestari, aku gak nyampe - mungkin. Hahaha.. Intinya ga ada jalan ceritanya, makanya aku biasa aja. Tp hebat banget, dia bisa nyiptain karya2 kayak gitu. Di akhir setiap cerita, ada lagunya. Salah satunya yg terkenal, Malaikat Juga Tahu (dinyanyiin oleh BCL).

Hari ini aku baru selesai baca Madre, karya terbaru Dee yg aku selesaiin dalam waktu ga nyampe sehari.


Sama kayak Rectoverso, Madre jg berisi kumpulan cerita pendek. Tapi lebih bervariasi dr Rectoverso. Mulai dari puisi, cerita cukup pendek, sampe cerita pendek yg cukup panjang. Hahaha.. Tapi, bedanya lagi, kali ini Madre sukses bikin aku jatuh cinta lagi. Lagi-lagi, hatiku terusik sama kata-katanya. Puitis. Realitis. Indah.

Itulah cinta. Itulah Tuhan. Pengalaman, bukan penjelasan. Perjalanan, bukan tujuan. Pertanyaan, yang sungguh tak berjodoh dengan segala jawaban. (Semangkok Acar Untuk Cinta dan Tuhan)

Aku hanya ingin mengucap selamat tinggal pada belahan jiwaku yang telah menemukan keutuhannya dalam dirinya sendiri. Aku dan rumahku adalah persinggahan yang harus ia tempuh, tapi bukan untuk ia miliki. (Guruji)

Kenali kekuatan waktu
Dalami kekuatan hati
Selami kekalnya doa. (Percakapan di Sebuah Jembatan)

"Kadang-kadang kamu harus terjun dan jadi basah untuk tahu air, Che. Bukan cuma nonton di pinggir dan berharap kecipratan." - Starla, Menunggu Layang-layang.

"Tadinya saya pikir dunia ini nggak adil, Starla. Ternyata saya salah. Dunia ini adil. Cause you know what? Ke mana-mana kamu selalu kelihatan berdua. Tapi sebenarnya kamu sendiri. Selalu sendiri."
"Kamu memang terjun ke air. Tapi kamu pakai baju selam." - Christian, Menunggu Layang-layang.


"Layang-layang itu bebas di langit. Tapi tetap ada benang yang mengikatnya di bumi. Jangan lepasin aku, Che." - Starla, Menunggu Layang-layang.


"Aku... memang segitu takutnya... segitu nggak percayanya.... tapi, aku sekarat tanpa kamu." - Christian, Menunggu Layang-layang. --> Definitely my favorite!! Langsung meleleh *klepek-klepek*


Ada satu bagian yg mengusik hatiku:
"Posisi itu sudah kujalani dengan baik selama empat tahun. Aku nggak pernah keberatan. Cuma dengan begitu kita nggak saling menyakiti. Jadi, iya, lebih baik kita kembali kayak dulu." - Christian, Menunggu Layang-layang.

Pertanyaannya: Persahabatan, ataukah Perasaan? Haruskah kita mengorbankan persahabatan demi perasaan yg tumbuh - memikirkan kemungkinan bahwa kalo sampe putus, it'll never ever be the same - ataukah mengorbankan perasaan yg tumbuh demi mempertahankan persahabatan dan hubungan nyaman yg sudah kita bina selama ini? Kalau kita nggak berani mengambil resiko, kalau kita nggak ingin tersakiti, selamanya kita hanya akan berjalan di tempat, bukan? Tapi, beranikah kita mengambil resiko itu? Resiko kehilangan orang yg kita sayangi selamanya, juga resiko tersakiti. Dan menyakiti.

Aku kemarin baru download PDF-nya "Jangan Main-main Dengan Kelaminmu", novel ciptaan Djenar Maesa Ayu. Belum pernah baca novelnya Djenar sebelumnya, penasaran aja. Semoga bagus. Yg pasti, nanti kalo ke toko buku lg, aku mau cari "Filosofi Kopi"-nya Dee. Semoga dapet!! Toko buku selalu jadi tempat favorit yg paling sering dikunjungi setiap aku pulang ke Surabaya. Well, meskipun di liburan kali ini dia terkalahkan oleh rumahnya Mika =p


Satu lagi buku yg masuk daftar buku yg pengen aku beli & baca: Tuhan Masih Menulis Cerita Cinta, karya Grace Suryani & Steven Halim.


Sekian obrolan unyu gue tentang kalimat2 unyu dari Mbak Dewi Lestari. Haha.. Berharap bisa bikin postingan2 lain tentang kalimat2 unyu dia yg berikut2nya, hihii..


"Gimana mungkin aku curhat sama kamu - tentang kamu?"
- Starla, Menunggu Layang-layang
=) 

No comments:

Post a Comment