Wednesday, August 31, 2011

Bulan dan Bintang



Lg mellow nih, mungkin jg karena bawaan PMS, hehehe..

Anyway..
Entah mengapa, kebanyakan orang lebih suka bintang daripada bulan. Mungkin karena jumlahnya yang banyak, menghiasi langit malam yang hitam dengan sinar mereka yang indah. Kecil-kecil, tapi banyak. Layaknya taburan permata di langit. Atau mungkin juga karena bentuk2nya yang unik. Well, aku nggak terlalu tau tentang dunia per-astronomi-an, aku juga ga tau tentang berbagai macam bentuk bintang yang orang-orang bicarakan, tapi harus kuakui, aku pun lebih suka bintang daripada bulan. Karena alasan yang aku sebutkan pertama kali tadi. Melihat bintang di malam hari, rasanya menyejukkan hati. Apalagi kalau ada seseorang yang istimewa bersama kita. Melihat bintang bersama di atas genteng *imajinasi mulai aneh, hehe.. ini sebenernya mau ngomong serius, mellow, ato bercanda sih?* Haha, selingan dikit gak dosa lah ya =p

Tapi.. Kalau dilihat dari sisi yang lain.. Mungkin dari sisi Si Bulan itu sendiri, hehehe.. Bulan lah yang tetap setia ada di sana, menerangi bumi kita tercinta. Dia yang tidak iri terhadap bintang-bintang, meski manusia lebih mengagumi mereka daripada dirinya.

Bahkan ketika Bintang tak terlihat di langit, kamu tak akan menyadari dan mensyukuri keberadaan Bulan di sana, karena kamu masih terlalu sibuk mencari Bintangmu.

Entah kalian memahami makna dari kalimat di atas atau tidak, tapi kalimat ini cukup menohok bagiku. Aku jadi mulai menyukai Sang Rembulan, dan tidak meng-anaktiri-kannya. Terutama lagi setelah aku baca Supernova-nya Dee yang pertama,  Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh.


Ksatria jatuh cinta pada Puteri bungsu dari Kerajaan Bidadari.
Sang Puteri naik ke langit.
Ksatria kebingungan.
Ksatria pintar naik kuda dan bermain pedang,
tapi tidak tahu caranya terbang.
Ksatria keluar dari kastil untuk belajar terbang pada kupu-kupu.
Tetapi kupu-kupu hanya bisa menempatkannya di pucuk pohon.
Ksatria lalu belajar dari burung gereja.
Burung gereja hanya mampu mengajarinya sampai ke atas menara.
Ksatria kemudian berguru pada burung elang.
Burung elang hanya mampu membawanya ke puncak gunung.
Tak ada unggas bersayap yang mampu terbang tinggi lagi.
Ksatria sedih, tapi tak putus asa.
Ksatria memohon pada angin.
Angin mengajarinya berkeliling mengitari bumi,
lebih tinggi dari gunung dan awan.
Namun Sang Puteri masih jauh di awang-awang,
tak ada angin yang mampu menusuk langit.
Ksatria sedih dan kali ini ia putus asa.
Sampai satu malam ada Bintang Jatuh yang berhenti
mendengar tangis dukanya.
Ia menawari Ksatria untuk mampu melesat secepat cahaya.
Melesat lebih cepat dari kilat dan setinggi sejuta langit dijadikan satu.
Namun kalau Ksatria tak mampu mendarat tepat di Puterinya,
maka ia akan mati.
Hancur dalam kecepatan yang membahayakan,
menjadi serbuk dan membedaki langit, dan tamat.
Ksatria setuju. Ia relakan seluruh kepercayaannya pada
Bintang Jatuh menjadi sebuah nyawa.
Dan ia relakan nyawa itu bergantung hanya pada
serpih detik yang mematikan.
Bintang Jatuh menggenggam tangannya.
"Inilah perjalanan sebuah Cinta Sejati," ia berbisik,
"tutuplah matamu, Ksatria. Katakan untuk berhenti begitu hatimu
merasakan keberadaannya."
Melesatlah mereka berdua.
Dingin yang tak terhingga serasa merobek hati Ksatria mungil,
tapi hangat jiwanya diterangi rasa cinta.
Dan ia merasakannya... "Berhenti!"
Bintang Jatuh melongok ke bawah,
dan ia pun melihat sesosok puteri cantik yang kesepian.
Bersinar bagaikan Orion di tengah kelamnya galaksi.
Ia pun jatuh hati.
Dilepaskannya genggam itu.
Sewujud nyawa yang terbentuk atas cinta dan percaya.
Ksatria melesat menuju kehancuran.
Sementara Sang Bintang mendarat turun untuk dapatkan Sang Puteri.
Ksatria yang malang.
Sebagai balasannya, di langit kutub dilukiskan Aurora.
Untuk mengenang kehalusan dan ketulusan hati Ksatria.

Aku jadi sebel banget sama Bintang Jatuh, hehehe.. Tapi tetep, it is the coolest fairytale I've ever read. And the sadest, probably.


Jadi, mungkin sekarang aku akan lebih sering menggunakan "Bulan" daripada "Bintang", seperti dalam puisiku, MIMPI. Meskipun semuanya itu tak akan bisa merubah perasaanku ketika melihat bintang-bintang di langit =)


Sometimes, the person you're looking for is right in front of you the whole time.

No comments:

Post a Comment