Tuesday, February 14, 2012

Bukan Melupakan, Tapi Melepaskan


Sedari kecil, aku sudah tertarik pada sastra. Setidaknya, pada bahasa. Bukan cuma bahasa asing seperti bahasa inggris dan mandarin, tapi juga Bahasa Indonesia dan bahasa daerah (Jawa). Sejak duduk di bangku SMP aku suka membuat tulisan2 seperti puisi sampai cerita2 pendek sendiri. Mungkin minat ini diwarisi dari mamaku. Tapi nggak tau apakah bakat Si Mama juga ikut diwariskan atau nggak =)

Aku suka sekali membaca, mulai dari tulisan2 nggak penting, novel2 ringan, sampai novel2 yg cukup berat, puisi, ataupun sekedar cerita2 pendek. Tapi kalau novel2 atau puisi2 yg bahasanya ketinggian sih aku seringkali masih belum bisa "nyampe" bahasanya, hihihi.. Pengetahuanku di bidang ini memang masih "dangkal", tapi ketertarikanku cukup tinggi. Makanya aku bahagia sekali setiap kali menemukan blog2 yg berisi tulisan2 yg kesastra-sastraan, dari yg paling berat sampai yg paling ringan sekalipun. Rasanya indah sekali, bisa membaca isi hati yg tertuang lewat kata2 yg indah. Kagum sekali pada orang2 yg bisa menuangkan isi hati ke dalam bentuk yg begitu indah. Terkadang begitu simpel tapi mengena, terkadang juga begitu nyleneh dan tak pernah terpikirkan oleh siapa pun.

Beberapa hari yg lalu, waktu sedang iseng2 blogwalking lewat @UpdateBlog di Twitter, aku menemukan satu (lagi) blog bagus yg semuanya berisi tulisan2 si empunya blog, yg kebanyakan adalah cerita2 pendek. Namanya Namarappuccino. Dalam waktu singkat, Namarappuccino telah menjadi tempat bacaan favorit baruku. Sudah beberapa kali aku share tulisannya di Facebook atau Twitter, tapi ketika membaca tulisannya yg satu ini, rasanya belum puas kalau belum di-share juga di blogku. Nggak melenceng juga dari tema bulan ini, terutama hari ini, 14 Februari 2012, yaitu Cinta.


---------------------------------------------

Aku Ini Lucu, Pelupa Tapi Tidak Pernah Mudah Melupakanmu

Aku bisa saja berpura-pura tidak melihatmu, mengalihkan pandangan dan berjalan memunggungimu. Tidak perlu saling menyapa, tidak perlu melihat senyummu yang selalu kurindukan itu, dan tidak perlu menenangkan hatiku yang sering menendang-nendang hanya karena mataku mengganggapmu masih cantik seperti dulu.  Masalahnya, hal itu tetap tidak bisa menutupi kalau sebenarnya aku rindu.


Aku melakukan itu sebenarnya tidak untuk menjauhi. Karena aku masih di sini, berusaha sebaik mungkin menjaga senyumanmu di tiap pagi. Hanya hatiku yang pergi. Sudah waktunya dia menemukan kebahagiaannya sendiri setelah hatimu juga mulai ada yang mengisi.

Aku bisa saja juga mengatakan kepada semua orang bahwa aku tidak memiliki perasaan apa pun kepadamu. Iya, semudah orang-orang MLM menawarkan untuk bergabung dengan mereka, entah kemudian ada yang memilih bergabung, atau meski kebanyakan tidak. Ya, seperti itu. Tapi tetap tidak bisa mengubah kenyataan bahwa aku sering sembunyi-sembunyi memperhatikanmu. Mengamati dengan detail apa rambutmu sudah lebih panjang sekarang, apa kamu masih mengeluh tentang tinggi badanmu, apa kamu sehat, dan hal-hal lain semacam itu. Lihat? Aku ini lucu, pelupa, tapi tidak pernah mudah melupakanmu.

Dan kemudian, kalau pun aku sudah mulai nyaris lupa, bisa saja ketika mengunjungi kafe atau toko buku, tiba-tiba saja mereka memutar lagu yang selalu kita nyanyikan berdua. Ah, Tuhan pasti sedang bercanda.

Tapi sungguh, aku benar-benar ingin lupa. Lupa seperti lupanya orang amnesia. Dan aku benar-benar berusaha keras untuk itu.

Dan di masa-masa aku benar-benar ingin lupa itu, ada kamu di depanku adalah halusinasi terbaikku. Mungkin rindu bisa menggagalkan lupa, sampai dia bisa mendatangkanmu di depanku meski aku sedang berusaha amnesia. Nah, jadi, kalau saja ada momen-momen tertentu dimana telingamu berbunyi, barangkali itulah momen dimana aku sedang berada pada halusinasi terbaikku, membayangkanmu.

Tapi kemudian aku menyadari sesuatu, kita, tidak mungkin melupakan seseorang. Kita punya memori. Tidak seperti memori flashdisk yang bisa diformat, memori kita tidak memiliki kemampuan itu. Pada suatu ketika, meskipun kita sudah mengira kalau kita lupa, ketika kita bertemu dengannya lagi, kita akan menyadari, ternyata kita masih belum lupa tentangnya. Ya, aku menyadarinya setelah kadang-kadang aku mengingatmu tanpa sengaja.

Yang paling penting ternyata bukan lupa, tapi melepaskan. Dengan melepaskan kita tidak perlu melupakan. Sama seperti anak kecil yang balonnya lepas ke udara. Dia akan menangis sebentar. Menangisi balon berharganya yang lepas. Tapi cepat atau lambat balon itu tidak diingat seterusnya karena tertumpuk memori-memori tentang mainan, makanan, atau film-film baru. Ya, seperti itu.

Jadi aku akan melepaskanmu. Pelan-pelan aku berhenti mencari tahu tentangmu. Pelan-pelan aku akan menikmati apa yang ada di depanku, orang-orangnya, tawanya, kebersamaannya, semuanya. Seperti itu. Dan pada suatu ketika juga, meski aku bertemu denganmu lagi nanti, ketika itu, mungkin aku sudah tidak mencintaimu seperti dulu. Seperti balon yang terbang ke udara itu. Tapi nanti. Nanti.

Bisa jadi, dalam jeda momen-momen itu aku akan ingat sesuatu, seperti saat-saat paling melelahkanku dulu ketika aku menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan kekuatanku untuk menyapamu. Lalu gagal. Lucu sekali bagaimana keangkuhanku berubah menjadi kepengecutan ketika bahkan sekadar untuk menyapamu nyaliku seciut kutu.

Atau aku pernah berpikir bahwa bahagia itu sederhana, kamu. Tidak perlu kalimat indah yang perlu dilanjutkan di sana untuk menjelaskan itu. Dulu. Dulu.

Ya, seperti yang kukatakan tadi. Tidak mungkin lupa. Tapi kalau sudah melepaskan, mengingat pun sudah tidak bermasalah karena kita sudah hidup di masa kini. Rindu, tapi tidak ingin kembali. Karena kita sudah berbahagia di posisi kita sekarang ini. Karena kita adalah kita sekarang, dengan kebahagiaan kita sekarang, bersama orang-orang yang mencintai kita sekarang. Bukan tentang masa lalu lagi. Karena di masa lalu, tidak pernah ada masa depan.

Ya. Suatu hari pasti seperti itu, nanti. Aku akan mengingatmu kadang-kadang, tanpa sengaja. Tapi hanya sebagai 'pernah', bukan sebagai 'sekarang', apalagi 'selamanya'.

Tapi mungkin aku akan punya pertanyaan sederhana kepada dia (siapa pun itu) yang bersamamu nanti itu, “Kamu, yang bisa selalu berada di dekatnya sesering itu, bagaimana rasanya?”

Pertanyaan itu, bisa jadi jawabannya selalu aku ingin tahu. Meskipun mungkin, itu hanya pertanyaan yang akan terus kubatin. Selama mungkin.

(Diambil dari http://namarappuccino.blogspot.com/2012/01/aku-ini-lucu-pelupa-tapi-tidak-pernah.html)

-----------------------------------------------------

Kalimat yg dicetak tebal adalah kalimat2 yg membuatku mengangguk2kan kepala ketika membacanya. Semoga kalian juga sama menikmatinya seperti aku menikmati tulisan2nya.

Happy Valentine's Day :)

No comments:

Post a Comment