Sunday, May 20, 2012

Euthanasia


Pada pernah denger tentang "euthanasia" ga? Euthanasia jg terkenal dengan sebutan "suntik mati". Harusnya pada udah pernah denger kan tentang suntik mati? Hehe..

Nah, hari ini aku baru aja ikut seminar tentang euthanasia. Topik yg menarik dan kontroversial, bukan? Organisasi pelajar Indonesia di Suzhou (SISC) memang punya program baru yaitu bikin seminar2 tentang ekonomi/bisnis & medical/kesehatan. Untuk seminar kali ini, kita memanggil nara sumber Yong Lee, M.D., director of sports medicine di Shanghai. Beliau adalah ABC (American-Born Chinese), hehe.. Jadi, meskipun dia terlihat chinese, tapi dia ga bisa ngomong chinese karena dia lahir di Brazil dan tinggal di California. He is a Christian, dan dia sering jadi pembicara di gereja, makanya seminar dia ini dipandang dari sisi Christian jg.

Sebelum cerita lebih lanjut tentang euthanasia, aku mau cerita pengalamanku di emergency room (ER, atau UGD) karena aku lg ditempatkan di bagian UGD. Beberapa hari yg lalu, ada orang kecelakaan dibawa ke ER dalam kondisi sudah meninggal - tidak ada detak jantung & napas. Meskipun sudah dilakukan CPR (pertolongan pertama untuk mengembalikan detak jantung & pernapasan) secara manual, tapi tetap percuma, pasiennya nggak "balik2". Sampai akhirnya dipasangin mesin CPR pun jg nggak ada hasil. Tapi orangnya jd terlihat seperti bernafas kembali, bahkan di monitornya pun detak jantung dan napasnya udah ada (tadinya tanda tanya doang). Dari situ, serasa mataku dibukakan. Mencabut mesin atau alat bantu yg membuat orang tetap hidup jg merupakan keputusan yg sangat berat, bukan? Banyak orang menganggap itu merupakan tindakan yg sama dengan membunuh pasien tersebut, karena setelah alat2 itu dicabut, si pasien akan meninggal. Well, padahal kalau dilihat dr kacamata medis, sebenarnya pasien tersebut memang sudah meninggal. Pasien masih bernapas & jantungnya masih berdetak hanya karena mesin2 tersebut yg menjalankan fungsi tubuhnya, bukan tubuhnya sendiri. Jadi, sebagai seorang medis, aku pribadi setuju dengan pencabutan alat2 bantu tersebut, meskipun memang ada kasus2 mukjizat bahwa pasiennya kembali sadar setelah sekian lamanya koma. Sekali lagi, aku setuju karena aku memandang & mengerti dari sisi medisnya.

Apa hubungannya pencabutan mesin/alat2 bantu dengan euthanasia? Well, tadinya aku pikir euthanasia itu ya cuman sekedar suntik mati aja. Tapi, ketika aku google, ternyata euthanasia itu bisa dilakukan dengan berbagai cara, dan bukan hanya dengan MELAKUKAN tindakan untuk mengakhiri hidup seseorang, tetapi jg dengan TIDAK MELAKUKAN apa yg semestinya dilakukan untuk membuat seseorang tetap hidup. Ketika membaca itu, aku langsung kaget dan bimbang. Kalo gitu, mencabut alat2 bantu jg sama dengan euthanasia dong?? Kan alat2 tersebut bikin mereka tetap hidup? As a Catholic, I'm against euthanasia (and abortion). Tapi, di sisi lain, aku baru saja menyatakan bahwa aku oke2 aja dengan pencabutan alat2 bantu tersebut. Uh oh!

Now, let's talk about the seminar. Informasi yg diberikan dalam seminar bahkan membuatku lebih shock lagi. Tadinya aku kira euthanasia adalah cara yg ditempuh agar orang2 dengan penyakit parah dan menyakitkan bisa meninggal dengan tenang tanpa harus tersiksa lama2 oleh rasa sakit yg teramat sangat. Ternyataa.. Euthanasia bisa dilakukan:
1. Atas kesadaran dan kemauan dr yg bersangkutan
2. Tanpa kesadaran dan kemauan dr yg bersangkutan (coma patients)
3. Assisted suicide (bunuh diri dengan bantuan)
4. Euthanasia by action (melakukan tindakan untuk mengakhiri hidup seseorang)
5. Euthanasia by omission (tidak melakukan apa yg semestinya dilakukan untuk membuat seseorang tetap hidup)

Banyak contoh kasus yg diberikan oleh dr. Yong Lee:
1. Seorang pria di Inggris memiliki istri yg didiagnosa kanker dan tidak akan bertahan hidup lama. Pria tersebut merasa hidupnya tidak akan berarti lagi tanpa istrinya, dan dia tidak dapat hidup tanpa istrinya. Karena di Inggris tidak melegalkan euthanasia, mereka pergi ke Switzerland, dimana euthanasia adalah hal yg legal, dan mereka minum obat di depan anak2nya, kemudian meninggal bersama.

2. Seorang penyelam Spanyol menderita paralisis dari leher ke bawah dan bagian tubuh yg bisa ia gerakkan hanya wajahnya. Ia merasa hidupnya sudah tidak berarti lagi dan dia mau mati saja. Ia menghadap ke pemerintah Spanyol agar mengijinkan dia untuk melakukan euthanasia dengan alasan bahwa ini adalah hidupnya, dan dia berhak memutuskan apa yg ia mau lakukan terhadap hidupnya tersebut. Pemerintah Spanyol tetap menolak dan menyatakan bahwa hal tersebut adalah hal yg illegal, tapi ia akhirnya menemukan seseorang yg bersedia membantunya untuk melakukan euthanasia beberapa tahun kemudian.

Itu hanyalah dua contoh kasus yg terjadi. Tahukah kalian, bahwa lebih dari 50% euthanasia bukan dilakukan pada pasien2 dengan penyakit yg parah (terminally ill patients), bahkan banyak kasus dimana tidak ada penyakit sama sekali. So, why? Why do people do that? Karena keputusasaan, perasaan tidak berharga, depresi, dll. Intinya adalah mereka sudah tidak mau hidup lagi. Sama dengan bunuh diri, bukan?? Banyak yg beralasan seperti penyelam Spanyol tadi, bahwa merekalah yg berhak atas hidup mereka. Sebagai orang2 beragama, tentu kita tau bahwa hidup kita milik Tuhan. Tuhan lah yg memberi kita hidup, dan hanya Tuhan yg berhak menentukan hidup kita.

Pertanyaannya adalah: Apa definisi dan batasan dari "menderita/penderitaan"? Apa definisi dari "meaningless"? Siapa yg bisa dan berhak menentukan hidup seseorang berharga atau tidak? Siapa yg berhak menentukan apakah seseorang pantas hidup atau tidak?? Orang2 yg hidup dengan anggota tubuh yg lengkap bisa merasa hidupnya tidak berarti, dan orang2 yg tidak punya tangan dan kaki bisa merasa hidupnya sangat berarti. Banyak orang kehilangan sesuatu atau orang2 yg mereka sayangi, tapi mereka tetap menjalani hidup mereka sepedih apapun itu rasanya ditinggal our beloved, tapi di sisi lain, ada orang2 yg memilih jalan pintas yg terlihat lebih mudah, yaitu mati. Bukankah euthanasia hanya membuat orang semakin mudah untuk menyerah? When life doesn't go the way you want it to be, then what? You just die?

Bahkan, yg lebih mengagetkan lagi, di Belanda, bukan hanya euthanasia merupakan sesuatu yg legal, mereka bahkan punya sebuah protokol bernama "The Groningen Protocol". Groningen Protocol ini menyatakan bahwa orang tua berhak untuk melakukan euthanasia (baca: mengakhiri hidup/membunuh) anak2nya yg berusia di 12 tahun ke bawah. WHAT??!! Sungguh nggak habis pikir.. Dan makin banyak negara yg mulai melegalkan euthanasia. Belanda, Switzerland, lalu denger2 Spanyol jg. Dr. Yong Lee jg bilang, di Weibo (twitter-nya Cina) pernah dibahas tentang euthanasia, dan sekitar 50% orang2 muda di Cina menyetujui dilegalkannya euthanasia di Cina dengan berbagai macam alasan, salah satunya alasan ekonomi. Mau jadi apa dunia ini? Orang makin gampang bunuh diri, atau bahkan membunuh orang lain yg dianggap sudah tidak berarti/dibutuhkan lagi. Wew!!!

No traditional culture, as a general rule, honors this kind of dying. But cultural values are changing. That is sad. Dan euthanasia bisa jadi semakin terkenal dan umum :(

Lalu, apa jawaban untuk mereka2 yg memiliki penyakit yg sudah tidak ada harapan sembuh lagi, kalau bukan euthanasia? Bukankah kalau terus dijejali obat2an dan membiarkan mereka menderita dengan rasa sakit yg luar biasa akan semakin menyiksa mereka, then they die anyways? Jawabannya adalah dengan palliative care. Mungkin masih banyak yg belum tau tentang palliative care, karena memang belum terlalu "terkenal", terutama di luar Amerika. Tapi aku udah denger sejak lama karena dulu mamaku menderita kanker paru2 dan papaku banyak baca2 tentang palliative treatment ini. Tujuan dari palliative care adalah untuk meringankan dan menghindari pasien menderita di saat2 terakhir hidupnya, supaya pasien tersebut memiliki kualitas hidup yg lebih baik, tidak menderita sakit yg menyiksa, dan meninggal dengan lebih baik jika memang sudah saatnya mereka pergi.. Jadi, palliative care tidak bersifat/bertujuan untuk menyembuhkan penyakit, tapi untuk meringankan gejala2 menyiksa yg diderita si pasien. Kalian bisa google tentang palliative care ini.

Apakah orang2 yg membantu euthanasia pernah dituntut ke pengadilan? Ya. Oleh karena itu, salah satu alternatif yg mereka lakukan adalah dengan hanya menyediakan obat2an dan peralatan yg diperlukan si pasien untuk melakukan euthanasia, tetapi ketika si pasien melakukannya, mereka yg membantu tidak berada di tempat kejadian.

Kemudian.. Dr. Yong Lee menjawab pertanyaanku tentang pencabutan alat2 bantu tersebut. Beliau sependapat denganku, bahwa it is okay to do it. Why? Kita harus bisa membedakan "shortening life" dengan "prolonging death". Seperti yg sudah aku jelaskan di atas, bahwa orang2 dengan alat2 bantu itu sebenarnya memang sudah meninggal. Tubuh mereka sudah tidak mampu lagi untuk melakukan fungsi2 mereka. Dengan tetap memasang alat2 bantu tersebut, it's called "prolonging death", bukan "shortening life" (euthanasia = shortening life). Memang mungkin mukjizat terjadi, tapi itu hanya terjadi di sedikit kasus, dan sebagai dokter, kita melihat prognosis (kemungkinan untuk sembuh) di kebanyakan kasus. Setelah mendengar itu, jadi lega dehhh =D

Sekali lagi, ini bukan untuk men-judge benar atau salah, karena memang pro dan kontra tentang euthanasia ini sangat kuat. Rasa2nya nggak akan ada habisnya kalau dibahas. Ini hanya aku yg sedang mengemukakan pendapat pribadiku tentang euthanasia dan hasil seminar hari ini, dimana nara sumbernya jg memiliki pendapat yg sama denganku. Tapi ingat, agama (terutama Kristen & Katolik) menentang euthanasia.

Our beloved people died, shit happens, but life goes on anyways. Euthanasia is not the choice!

4 comments:

  1. i love this kind of post :) gw suka banget baca yg bikin pengetahuan bertambah. such an interesting topic. post more more more hahaa.. terutama yg terapi itu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku jg senaang kalo post yg aku tulis bisa bermanfaat :) nanti kl ikut seminar2 lg aku bakal post2 terus deh yaa..

      palliative care itu kah mksdnya? aku sendiri jg blm gt tau banyak & detail sih ttg itu, yg pasti ya itu, tujuannya adalah membuat orang2 yg mendekati ajal bisa punya good quality of life sebelum mereka meninggal, dan obat2an yg dipakai hanya bersifat meredakan gejala2 yg menyiksa mereka, tp tidak bersifat menyembuhkan, krn memang sudah tidak bisa disembuhkan lg.. dan takutnya kalo terus2an dikasi obat2an yg sifatnya menyembuhkan tp punya efek samping yg kuat, nanti malah makin menyiksa mereka, gitu..

      Delete
  2. bagus banget Sil hahaha. baru sempet baca sekarang nih :p

    btw, hidup sekarang emang udah kebolak-balik. tidak ada lagi benar salah seperti dulu. semuanya serba relatif :( like what u said, orang2 itu dg sangat cepat & mudahnya bisa memutuskan utk mengakhiri hidup.... iya ya, ironi banget. orang yg fisiknya lengkap, bahkan mungkin ga sakit apa2, bisa merasa hidup ini ga berarti. tapi orang yg tanpa lengan & kaki, spti Nick Vujicic, justru bisa jadi a living testimony & bersaksi dimana-mana. Betapa bedanya!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener bangett, Nik! Orang pengen yg serba instan, termasuk dlm penyelesaian masalah.

      Nick Vujicic bener2 jd inspirasi banget.. Life depends on how you see it and how you live it.
      Dan ketika kita tahu bahwa hidup kita bukan milik kita, and we are NOT alone through every problem in our life, kita nggak akan mau memperlakukan hidup kita secara semena2. We know He is there with us :)

      Delete