Tuesday, July 24, 2012

Sepenggal Memori

NB: Post ini ditulis pada suatu hari di bulan Juni 2012..




Dari kecil, aku bangga sekali terhadap orang tuaku. Aku punya mama yang paling cantik sedunia dan papa yang paling pintar sedunia. Mama selalu datang ke sekolah untuk menerima raporku setiap cawu-nya, mulai dari sewaktu aku masih TK sampai sekarang. Dan setiap kali mama datang ke sekolah, aku selalu dengan bangga memperkenalkan dia pada semua orang yang kukenal, baik teman-temanku maupun guru-guruku. Seperti sekarang ini. Mama sedang duduk di dekat tangga menuju ke kelasku yang terletak di lantai dua. Kelas XI-C. Tak seperti biasanya, mama tidak langsung menuju ke tempat di mana kelasku berada. Aku pun bergegas menyuruhnya untuk bangkit berdiri dan segera menaiki tangga. "Ayo, Ma, kita naik!" Seperti biasa, aku sudah tak sabar untuk berjalan bersama mamaku yang paling cantik sedunia di depan teman-temanku.

----------------------------------------------------------------------

Kejadian di atas adalah sepenggal memori dari masa SMP-ku. Tadi, ketika aku sedang di atas motor listrikku hendak menuju ke apartemen yang kusewa, tiba-tiba saja sepenggal memori itu terlintas dalam pikiranku. Out of nowhere banget, ya, nggak ada apa-apa tiba-tiba teringat akan kejadian itu. Aku lalu jadi teringat akan sesuatu dan membuatku berpikir...

Waktu itu, aku kelas XI (2 SMP). Berarti saat itu, mama sudah sedang mengidap penyakit tersebut. Mama tampak tidak seperti biasanya. Apakah saat itu mama sedang merasakan sakit? Capek? Atau malu? Karena ia merasa ia sedang sakit dan tidak sedang berpenampilan baik? Tidak pernah mama hanya duduk diam dan tidak bergegas menuju ke ruang kelasku. Seperti tidak percaya diri. Sungguh, semua itu tidak pernah terlintas di dalam pikiranku hingga sore tadi. Pertanyaan-pertanyaan itu menambah panjang daftar pertanyaan yang aku punya, pertanyaan-pertanyaan yang tidak sempat aku tanyakan padanya, dan hanya ia yang bisa menjawabnya. Terutama hal-hal yang menyangkut tentang pengalamannya sebagai mahasiswi Fakultas Kedokteran sepertiku. Seiring dengan bertumbuhnya aku, semakin banyak aku berpikir, menyadari sesuatu, dan menyimpan berbagai tanya yang tak akan mungkin lagi akan kudapatkan jawabnya.. Sering, inginku berbagi cerita tentang suka duka menjadi seorang mahasiswi kedokteran dengannya. Apakah mama dulu juga mengalami jatuh bangun yang sama denganku? Bagaimana perasaannya ketika pertama kali melakukan eksperimen laboratorium pertamanya? Atau ketika pertama kali memasuki ruang laboratorium yang berisi mayat kemudian harus membedah mayat-mayat tersebut? Ahh, tak mungkin kusebutkan satu per satu. Aku pun bingung, saking banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang kusimpan. Cerita-cerita tentangku ketika aku masih sangat kecil, yang baru aku dengar kira-kira setahun yang lalu dari kakak tertuaku. Ingin sekali ku mendengarnya dari mama. Hanya beberapa cerita tentang masa ospeknya yang samar-samar masih aku ingat hingga sekarang.

Biasanya, aku jadi melankolis waktu aku lagi PMS - Premenstrual Syndrome. Biasa, cewe.. Jadi, aku nggak akan terlalu heran kalau aku jadi suka tiba-tiba teringat akan sesuatu yang sedih di masa-masa PMS. Tapi sekarang aku nggak lagi PMS.


Masa-masa seperti ini adalah masa-masa dimana aku begitu ingin supaya mama kembali. Untuk menjawab semua pertanyaan yang ada di hatiku. Untuk berbagi cerita dengannya, demi menguatkanku ketika aku harus menghadapi masa-masa yang sama dengannya di kemudian hari, sebagai sesama perempuan. Ia pergi ketika aku masih belum bisa membicarakan banyak hal yang perlu kuketahui ketika aku dewasa..

Tapi, sekali lagi.. Aku terus diingatkan untuk selalu percaya akan waktu dan rencana Tuhan. Tidak ada segala sesuatu yang tidak baik. Di balik segala cobaan, Tuhan selalu ada bersamaku.

Instead of questioning why she had to leave me so soon, I choose to be grateful that she was in my life, that I was given the chance to have her as my mother for 15 years. Those 15 years were what made me who I am now. The best start of a life a girl could have :')

No comments:

Post a Comment