Saturday, December 22, 2012

Habibie & Ainun

Ya, itu adalah judul sebuah film yang baru saja premier di bioskop beberapa hari yang lalu. Gara-gara baca di koran bahwa katanya Presiden SBY aja sampe menitikkan air mata waktu nonton pemutaran perdananya, aku jadi cukup penasaran pengen nonton juga. Filmnya kayaknya bagus.

Tapi postingan ini bukan semata tentang review film ini..


(Source: Google)

Kemarin, aku pergi ke Plaza Tunjungan ama Ricky & Heidi. Niatnya sih makan trus nongkrong-nongkrong aja, males jalan-jalan. Tiba-tiba Heidi nyeletuk, "Aku pengen nonton 'Habibie & Ainun' nih, katanya bagus. Pak Habibie-nya soswit katanya." hahaha.. Akhirnya kita iseng-iseng cek ke bioskopnya dan ternyata masih ngga terlalu ramai. Jadilah kita beli tiketnya dan nonton filmnya.

Film ini lebih menceritakan tentang biografi hidup Pak Habibie dan sosok yang ada di belakang kesuksesannya. Seperti pepatah "behind every great man, there is a great woman", begitu juga Pak Habibie.

Habibie & Ainun adalah teman SMP. Waktu itu, Habibie bilang kepada Ainun, "Kamu itu jelek, item, kayak gula jawa.". Mereka kemudian bertemu lagi setelah menyelesaikan studi masing-masing. Habibie tinggal di Jerman, sedangkan Ainun adalah seorang dokter muda yang jadi kembang desa di Bandung. Habibie bilang, "Gula jawanya sekarang kok berubah jadi gula pasir." hehehe.. Singkat cerita, mereka akhirnya menikah dan tinggal di Jerman.

Personally, aku menilai film ini termasuk film Indonesia yang berkualitas. Reza Rahadian yang berperan sebagai Habibie bener-bener oke banget aktingnya. Cara jalannya, ekspresi wajahnya, dan yang terutama adalah gaya bicaranya, mirip banget sama Pak Habibie. Tak jarang penonton dibuat ketawa olehnya. Bahkan Si Heidi rasanya ketawa mulu sepanjang filmnya =p BCL yang memerankan Ainun juga cantik banget..

Salah satu bagian yang aku suka dari film ini adalah ketika Ainun bilang, "Kamu itu orang yang paling keras kepala yang pernah aku kenal. Tapi, kalau aku harus memutar waktu, aku akan tetap pilih kamu." *leleh seketika*

Kata-kata Ainun itu langsung ngingetin aku akan kata-kata papa minggu lalu:
"I never regret marrying your mom. Even if I could turn back time, I would still marry her." *awwww*

Rasanya menyejukkan banget, mengetahui bahwa that kind of love, which is very strong and sincere, still exists. Terutama ketika itu adalah kisah cinta dari kedua orang tuaku :') Sayang, pernikahan jaman sekarang sepertinya sudah bergeser nilai-nilainya. Perceraian sudah tidak menjadi hal yang aneh atau tabu lagi di kalangan generasi muda kita. Usia pacaran yang lama, bahkan usia pernikahan, tidak menjadi jaminan langgengnya sebuah pernikahan. Apalagi sekarang sarana untuk selingkuh jadi makin banyak dan mudah. FB, BBM, twitter, semuanya bisa jadi sarana juga untuk berselingkuh, dengan atau tanpa kita sadari. Arghh, stress juga yah kalo mikirin itu @.@

Menjelang akhir film, aku mulai meneteskan air mata. Sebenernya mungkin aku yang lebay kali yah, soalnya yang lain palingan cuman terharu, nggak sampe nangis. Masih bisa ketawa-ketawa malah, masih gara-gara akting Reza yang jago banget niruin gaya Pak Habibie. Dan yang parahnya, tangisku malah makin kenceng waktu filmnya bener-bener udah mau abis. Alhasil, waktu lampu bioskopnya nyala, aku masih lagi sesenggukan sendiri sambil nyari-nyari tissue di tas *maluuu >.<

Aku nangis lebih karena keinget sama mama. Karena Bu Ainun juga meninggal karena kanker, sama seperti mama. Juga sedih karena, ada dua orang lagi yang cintanya harus dipisahkan oleh maut. Jadi inget lagi sama kata-kata papa dulu, "Dua orang yang saling mencintai harus dipisahkan oleh maut, sedangkan dua orang yang sebenarnya masih bisa terus bersama, malah mau cerai.". Ironis, memang.

Film ini mengingatkan aku lagi, untuk bisa jadi istri yang baik seperti Bu Ainun - dan istri-istri hebat lainnya. Dan semoga dapet suami yang baik juga, yang setia, hahahha.. AMIN!! Apalagi Bu Ainun adalah seorang dokter, dokter anak pula! Persis seperti impianku: jadi dokter anak, atau paling tidak, bisa jadi dokter bagi keluargaku sendiri.

Anyway, hari ini adalah 22 Desember, yang di Indonesia kita peringati sebagai "Hari Ibu".

Selamat Hari Ibu untuk wanita-wanita hebat di seluruh dunia! Jangan pernah menyerah yah di dalam mendidik dan membesarkan anak-anak kalian. Dan semoga suatu hari nanti, aku bisa ikut merasakan jadi bagian dari kalian. Jadi ibu yang baik bagi anak-anakku. Seperti mamaku. Seperti Bu Ainun. Seperti kalian semua :)


Buat bonus, aku copy-paste puisi yang dibuat oleh Pak Habibie untuk Bu Ainun
(Source: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=3700893574492&set=a.1022146807497.2942.1640022046&type=1&ref=nf)


Mana Mungkin Aku Setia… (B.J. Habibie for Ainun Habibie)

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.

Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,

dan kematian adalah sesuatu yang pasti,

dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan

bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang,

sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati,

hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.

Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,

pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada.

“Aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.”

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,

tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.

Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua,

tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta,

sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,

kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.

Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku,

Selamat jalan, calon bidadari surgaku ….

8 comments:

  1. Romantis banget...gila, ngejleb banget kata2nya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoii.. Sepanjang film ber-awww ria mulu hahahaha.. Unyu deh pokoknyaa =p

      Delete
  2. sedih puisinya ngena banget. gw kekna kalo nonton bakal nangis2 deh scara gw hopeless romantic juga ahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih, harusnya nonton bareng sesama hopeless romantic people. Gw kemarin nangis malah diketawain ama temen gw, sihaaall, hahahha..

      Delete
  3. Wahhh sylvia. kmu balik indo tohh?? truz orang surabaya yaa ternyata?? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyahh nih lagi balik Indo, tapi ntar balik Cina lagi, hehehe..
      Iyaa lagiii, aku orang Surabayaa :D

      Delete
  4. aku dah nonton, tapi gak suka endingnya, hahahha, kurang dramatis ^^ Dan selain romantisnya mereka berdua, aku jadi menyadari , pak habibie tu jenius buanget ya, bangga mmiliki putra bangsa kayak pak habibie ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha sukanya yg dramatis yaa :p
      Hooh jenius parahh.. Keren >.<

      Delete