Monday, June 24, 2013

Lessons To Learn

Bangun tidur - doa - sarapan - mandi dll - duduk di sofa baca koran - blog walking. Rasanya udah lama deh nggak melakukan rutinitas blog walking.. And I'm happy I finally have time to do it. Biasanya cuma ngecek Home/Dashboard, ngeliat ada postingan baru apa dari blog2 yg aku follow. This morning, I saw a new post from Ci Fani. I always find it interesting to read new posts from her terutama sejak "Kelas Karamel"nya :) A minute later, I found myself reading some of her latest posts..

Sejak sebelum aku mulai ngeblog, aku suka bacain blognya Ci S & Ci Lia, kemudian Ci Grace, Ci Fani, dll. Bagian favoritnya tentu saja tentang PH & their families. Aku belajar banyak tentang relationship dari mereka. Dari bagaimana mengisi masa single sampai menjadi Godly women & wives.

Karena udah nggak single lagi - ceileeehhh =p - dan sedang menjalani hubungan yg serius, baca2 sharing pengalamannya Ci Fani di masa2 awal pernikahannya jadi lebih ngena lagi ke aku tadi pagi. Bacain sharing2 para Cici itu bener2 bikin aku belajar banyak en jadi semangat untuk terus belajar, bikin aku semakin sadar bahwa di dalam relationship, we should never stop learning & making efforts. Once you - either you or your partner - stop making efforts, your relationship is going to fail. Hal2 yg keliatan kecil bisa jadi besar kalo kita biarin terus2an dan ga ada usaha untuk merubahnya jadi lebih baik. Ada amen di sini?

Dari waktu masih single kemarin, aku belajar tentang how to be a good partner & how to make a good relationship, and hopefully to be a good wife for my future husband. Dan sekarang lagi BERUSAHA sepenuh hati mempraktekkannya :D Here are some things I've learnt:

1. Mempertahankan kebiasaan2 kecil tapi romantis
Saying "I love you" tiap hari, greeting "good morning" tiap pagi, kelihatannya adalah hal2 klise, lebay, dll, tapi menurut aku, it's very essential. Justru hal2 kecil yg orang2 bilang lebay itu bisa bikin relationship tetap "hangat". Kalo orang bilang kata2 "I love you" itu nggak penting karena yg penting adalah actionnya, I don't agree. Memang, words are nothing without actions, tapi buat aku, kata2 juga penting. Maklum, blogger kali yah.. I show my care not only through actions but also words. Dan aku bersyukur bahwa pasanganku pun bukan orang yg "susah" untuk mengungkapkan perasaannya lewat kata2 juga. Aku mau jaga kebiasaan2 kecil dimana aku ucapin "Good morning, Sayank.. God bless you & I love you.." setiap hari, nggak cuma di masa2 kita lagi berbunga2 seperti sekarang, tapi sampai seterusnya nanti.. (Semoga masa2 berbunga2nya berlanjut terus nggak cuma pas awal2, hahaha). I want him to start the day with a good thing & know that he is loved, that someone is praying for him and he means so much to that someone :')
The question is, masih bisa kah kita bilang "I love you", "Aku sayang kamu", di saat kita lagi marah sama pasangan? Kalo bilang sayang waktu lagi hepi2 mesra2 gitu sih gampang, tapi waktu lagi keseeell sama pasangan? Susah banget tuh pasti. Soalnya hati ini lagi dipenuhi rasa dongkol, ego, gengsi, dll. Ini nih yg mesti aku pelajarin. Saying "I love you" di saat berantem, hahahha.. Tapi so far belum pernah berantem sih ama Doi :D

2. Memuji pasangan
Never hesitate to give your partner compliments! Hargai usahanya, puji hal2 yg telah dia lakukan. Pujian juga bikin orang merasa disayang & dihargai, lho. Don't take anything for granted. Make him/her feel special. Tapi harus tulus & jujur ya.. Kalo nggak tulus yg dipuji juga pasti tahuuu.. Mean every word you say. Kalo emang bagus ya bilang bagus, kalo kurang, ya jangan dikatain - apalagi ngatain di depan orang, it's a BIG NO - melainkan, bisa kasih masukan buat dia untuk lebih baik lagi ke depannya. Karena itulah harapan kita dalam membina sebuah hubungan: supaya bisa bertumbuh bersama & menjadi lebih baik lagi. Right? :)
Ini salah satu hal terunyu dari Mr. CP. He always knows what to say, always gives me compliments, like, A LOT of compliments. Sampe aku suka jadi malu sendiri & ga percaya =p Dasar cewe, suka insecure sendiri, ga puas sama diri sendiri, suka membandingkan diri sendiri sama cewe lain, akhirnya makin insecure, ribet dah! =)))

3. Submission
Submission adalah kewajiban seorang istri terhadap suaminya, tapi aku mau belajar untuk submit mulai dari sekarang, karena aku sadar hal ini sama sekali bukan hal yg mudah. Butuh banget yg namanya ngelepasin ego kita untuk submit sama pasangan tanpa mengeluh ato bersungut2. Bukan berarti trus kita jadi "yes man" - kalo cewe, "yes woman" kali ya, hehe.. U know what I mean.. Kadang kita tuh susah untuk nurut/tunduk bahkan meskipun kita tau kalo apa yg dia bilang itu bener & it's the right thing to do. Kalo salah ya kita bilangin, kalo nggak bisa dibilangin ya didoain, kan kita mau belajar untuk jadi pasangan yg bisa saling membangun satu sama lain ;)

4. Menerima kekurangan pasangan & saling mengisi
Semakin kita mengenal pasangan, tentu saja semakin banyak kekurangan dari pasangan yg kita temuin. Harus belajar menerima & sabar menghadapinya, kita nggak cuma mau menerima kelebihannya trus ngomel2 marah2 sama dia tentang kekurangannya kan? Nggak ada manusia yg sempurna. Kita sendiri juga nggak sempurna, pasti punya kekurangan juga. Harus sama2 saling koreksi & instrospeksi diri sendiri untuk sekali lagi, JADI PRIBADI YG LEBIH BAIK nggak cuma untuk pasangan tapi juga untuk orang lain, dan terlebih untuk kebaikan diri sendiri.


Dan banyaaaakkk lagi hal yg aku pelajarin dan berusaha aku praktekkin dalam hubungan ini. Itu cuma berdasarkan pengalaman pribadiku & bukannya mau sok menggurui, karena justru aku juga lagi & masih akan terus dalam proses belajar. This is not the first time me being in a relationship, but this is the first time I'm being in a mature one. Menjalin hubungan yg nggak cuman buat seneng2an sayang2an, tapi untuk hal2 yg jauh lebih besar dari itu semua. Dulu meskipun udah pacaran tapi ya mikirnya masih elu-elu, gue-gue, nggak mikirin masa depan. Kalo sekarang udah mikirnya buat masa depan bersama. Mulai belajar jadi "partner", bukan sekedar "pacar" :)

I'm SOOO grateful to have him as my partner, yg nggak cuma mau sabar jadi "guru" buat aku, tapi juga sama2 jadi "murid" yg lagi sama2 belajar untuk membina sebuah hubungan yg berkualitas di bawah pimpinan Tuhan.. We don't know what happens in the future, we don't know what God's plans are, what we know is that we wanna keep learning and keep asking for His Guidance towards us.

Buat Cici2 yg namanya kusebutkan di atas, dan juga buat blogger2 lain yg meskipun nggak aku sebutin satu2 di sini, keep writing! Keep sharing your experiences, because you never know that a small/simple thing - writing, for instance - can give such great inspirations, blessings & impacts for other people. I learn a lot through your blogs, and I hope mine can do the same to others too. Kita bisa saling berbagi & belajar dari pengalaman satu sama lain..

Untuk kasus yg sama kayak Ci Fani yg PH-nya malu kalo dipublish di blog, kasih tau mereka kalo mereka lagi menginspirasi banyak orang lewat kisah kalian ;) CP juga sebenernya malu dia dipublish di sini - sorry Hunny :p - yet he is being so supportive to me & my hobby of writing. Melting banget deh :') Malahan aku yg suka lebih maluuu kalo dia baca postinganku tentang dia =p Mungkin itu resiko punya pasangan seorang blogger yahh, because us girls love to share happy things to others, hahaha.. I can't help telling stories about him, telling the world how lucky I am to have met him & to have him as my man ^__^


Never thought I would find someone like you. If it was up to ME instead of GOD, if I wasn't patient enough to wait for His plans, it would've been very different.
I know you're not perfect, and neither am I. But I want to keep learning to be a better person & a better partner for you. You may not be perfect, but you are definitely the perfect one for me..
We'll keep asking for His Guidance to help us and teach us everyday, to walk together with Him and let this relationship grow stronger and stronger day by day.
Thank you for being you, thank you for loving & accepting me as I am.
You are everything that I've ever wanted and I'm proud to call you "mine".

Thursday, June 13, 2013

Living Abroad

Postingan ini terinspirasi dari blog Emotional Flutter punya Ko Keven. Mau sharing pengalaman hidup merantau di negara orang yang kurang lebih hampir sama ama yang dialamin Ko Keven. Sempet share sedikit sih di SINI, which was written 3 years ago, 3 years of living abroad. Pernah juga di SINI, tahun 2011, setelah 4 tahun tinggal di Cina. Yuk cross-check sama sharingku yang sekarang, setelah lulus dari sana ;)

5.5 tahun bukanlah waktu yang singkat. Itulah waktu yang kuhabiskan di Cina untuk kuliah.

Kuliah di luar negeri tidak selalu berarti memiliki keadaan ekonomi yang lebih tinggi daripada yang kuliah di Indonesia. Percaya nggak percaya, tuition fee-ku lebih murah daripada biaya kuliah di Indonesia. Yaa, secara biaya kuliah kedokteran di Indonesia kan selangit, uang pangkalnya aja udah bisa dipake buat kuliah di Cina sampe beberapa tahun.

Sebelum kuliah, aku nggak pernah tinggal jauh dari keluarga. Paling lama seminggu, waktu ikut retret di Tumpang. Trus, apa rasanya waktu pertama kali jauh dari mereka? Jawabannya: biasa aja.

Ya, aku memang bukan tipe orang yang gampang merasa homesick. Keliatan dari SMP, kok.. Waktu SMP & SMA aku aktif di ekstra kurikuler dan organisasi, jadi aku sering pergi camping atau diklat selama beberapa hari. Selama acara yang mengharuskan aku jauh dari rumah, aku ga pernah merasa kesulitan, apalagi kangen. Papa & mama pun bukan tipe orang tua yang neleponin anaknya setiap hari kalo anak2nya lagi ada kegiatan sekolah. Karena kegiatannya jelas: acara sekolah. Lain halnya kalo aku pergi jalan2 ke mall sama temen2. Jam 10 kalo belum nyampe rumah pasti udah ditelepon, ditanyain udah dimana & kok belum pulang.

Malahan, waktu mau masuk kuliah & memilih universitas, aku sengaja nggak pilih universitas yang ada di Surabaya. Aku pilih Jakarta atau Bandung. Alasannya? Bosan di Surabaya mulu. Luar biasa, bukan? =p

Tapi ternyata Tuhan memang punya rencana yang lain buatku, dan itu memang bukan di Surabaya, dan bukan juga di Indonesia.

Hidup jauh dari keluarga dan teman tentu juga punya nilai plus dan minusnya.

Nilai plusnya:

1. Pengalaman hidup
Kayaknya ga perlu diperdebatkan dan dibahas terlalu panjang tentang ini. Belajar hidup mandiri lah, mengatur keuangan sendiri, bahkan mikirin tiap hari pagi siang malam mau makan apa. Kalo di rumah? Boro2 mikirin mau makan apa, bangun tidur makanan udah tersedia, pulang sekolah makanan udah tersedia, pulang les/kerja makanan juga sudah siap tersedia.

2. So many "firsts"
- Pertama kali tinggal bareng banyak orang dengan kepribadian & karakter yang berbeda2 dan unik
- Pertama kali kemana2 naik bus, nanya2 sana sini pake bahasa mandarin
- Pertama kali belajar - dan akhirnya bisa - naik sepeda & motor listrik
- Pertama kali pegang tikus!! Walau melalui proses & perjuangan yang sama sekali tidak mudah, butuh air mata serta dukungan & bantuan dari teman2 tercinta yang unyu2 demi aku lulus ujian praktikum.
- Pertama kali ngurus urusan bank sendiri. Mulai dari buka account baru sampe nutup account-nya lagi pas mau for good ke Indonesia
- Pertama kali nyuci baju sendiri, baik dikucek sendiri pake tangan - pas taon2 awal - sampe pake mesin cuci - taon2 akhir
- Pertama kali ke rumah sakit sendirian, sampe akhirnya rumah sakit jadi kayak rumah kedua karena tiap ada temen yang sakit pasti aku yang nemenin ke rumah sakit
- Pertama kali bantuin polantas mengatur kendaraan di lampu merah. Lumayan bow, dari pagi ampe siang, berdiri di lampu merah sambil pake rompinya polantas dan bawa2 bendera buat nyetopin pengendara2 motor & sepeda yang nggak menaati lampu merah
- Pertama kali naik sepeda dari pagi sampe siang & menempuh jarak entah berapa puluh kilometer, sampe udah mau mati rasanya.
- Pertama kali naik truk. Gara2 beliin sepeda buat hadiah ultah temen tapi bingung gimana bawa pulang ke asrama, trus ada orang yang bawa truk yang juga lagi beli sepeda & mau ke daerah yang sama ama asramaku. Alhasil, aku & temenku beserta sepeda yang kita beli pun ikutan "diangkut" naik truknya. Amazing bin unyu. Kok nggak takut diculik yah waktu itu? Hahaha
- Pertama kali naik mobil polisi. Gara2 bantuin temen yang kecelakaan & dibawa ke kantor polisi untuk bantuin dia jelasin duduk perkara ke polisi
- Pertama kali jalan kaki pulang ke asrama. Lagi2 nggak tahu berapa puluh kilometer, yang jelas jalannya memakan waktu sekitar 3 jam. I did that twice. Seru! Soalnya sambil ngobrol sama temen2..
- Pertama kali mendirikan organisasi sendiri dan mengadakan acara2 sendiri, tanpa dibawahi oleh instansi apapun. Jadi mulai dari perencanaan sampai dana & pelaksanaan semuanya kita pikirin & lakuin sendiri ampe mumettt
- Pertama kali bayar air, listrik, dan gas sendiri
- Pertama kali jadi koreografer
- Pertama kali mandiin temen yang lagi sakit
- Pertama kali backpacking keliling Cina

Gila, kalo mau dilanjutin list-nya ga bakalan kelar nih.. Pokoknya pengalaman yang aku dapetin selama aku living abroad tuh luar biasa banget deh! Nggak bisa diungkapin dengan kata2.

My life was great there. Great friends, great people, great environment, great place.

Tapi, tentunya juga ada beberapa nilai minusnya, yaitu:

1. Pergaulan sempit
Mahasiswa/i Indonesia di Suzhou, kota tempat aku tinggal, cuman dikit banget, sekitar 100 orang - dibandingin ama Beijing, Shanghai, Guangzhou, yang jumlah orang Indonesianya mencapai ribuan wow. Positifnya, kita kenal satu sama lain dan punya hubungan yang sangat raket. Beda sama kota2 lain yang tadi aku sebutin, sesama orang Indonesia kalo ketemu tapi nggak kenal bisa nggak nyadar kalo mereka tuh sama2 orang Indonesia. Tapi, negatifnya, pergaulan kita jadi itu2 aja. Memang sih, banyak temen2 dari negara2 lain juga, but.. I don't know if you know what I mean..
Beda banget ama setelah aku for good ke Indonesia. Dalam waktu singkat, pergaulanku bertambah luas, banyak kenal orang baru, bahkan dapet PH *LOL ngakak =))))* That's a bonus :p

2. Rindu akan Tuhan
As we all know, Cina adalah negara komunis. Meskipun tetep ke gereja tiap Minggu, tapi feelnya kurang banget kalo waktu perayaan hari2 raya seperti Natal, Paskah, dll. Makanya ini lagi rindu banget pengen ikut retret, supaya bisa ngerasa kembali deket sama Tuhan..

3. Tentunya kangen sama orang2 terdekat
Tadi di awal post bilang katanya nggak homesick?
Itu kan pas awal2.. Anehnya, di taon2 terakhir kuliahku, aku jadi lebih sering kangen rumah. Mungkin karena pelajaran makin susah, trus kerja di rumah sakit, tantangan jadi makin banyak & berat. Di saat2 seperti itu baru berasa kalo ada keluarga di deket kita tuh enak banget. Ada yang akan selalu support & doain kita :) Talking to daddy on the phone always relieved me & made me feel a lot better :')
Poin ini bisa jadi minus tapi bisa jadi poin plus juga loh. Sebelum tinggal berjauhan, aku benci sama cc2ku. Kita sering berantem karena iri hati. Siapa yang menyangka, ternyata aku bisa kangen juga sama mereka :p Setelah jauh, baru berasa kangen. Distance does make the hearts grow fonder :') Cuman satu hal negatifnya: jadi missed the moments of the development of my nephew. Dia jadi nggak deket sama aku, pas awal2 malah ngga pernah nyari aku & kalo dia lagi nangis trus aku hibur, bahhh, ga ngefek. Nangisnya makin kenceng, malah. Tapi thanks God sekarang kita udah deket. Dia udah bisa nempel sama aku & nyariin aku, hihihi..

Hmm.. Can't think of more.. Karena basically, I had a great time during my stay in China. Yang paling berasa kerugiannya ya cuman 3 hal itu sih. Tapi itu pun sekarang udah ditebus semuanya :)

Living abroad? Never have any regrets so far ;) Yet, I feel blessed to have had those amazing experiences..

"Tuhan menaruhmu di tempat yang sekarang, bukan karena kebetulan. Orang yang hebat tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui kesukaran, tantangan, dan air mata." -Dahlan Iskan-