Monday, November 25, 2013

When God Gives More Than You Ask For

Lanjutan dari When God Wants Us To Wait.

Rasanya hari itu nggak bakal terlupakan.

Sejak belajar nyetir beberapa bulan yang lalu, aku punya kegiatan baru (hampir) setiap pagi, yaitu nganter ccku. Aku udah bisa nyetir, lho! *sekilas info nggak penting yang buatku penting banget, hahaha*
Aku nggak bawa HP karena mikirnya, nggak bakalan lama, palingan cuman setengah jam, dan biasanya yang nyariin aku pagi2 gitu ya cuma my dearest CP buat greet me good morning, hihihi *blush* Waktu itu dia udah lagi prepare for work, jadi yaudah, kutinggal lah HP-ku di kamar.

Nggak taunya, rupanya pagi itu memang bukan pagi yang "biasa". Waktu aku pulang, udah ada 3 missed calls dan semuanya dari Udayana! It'd been the most wanted call for months! Langsung aku telepon balik sambil deg2an. Kira2 ada berita apa yah ini? Good news or bad news? >.<

"Halo, selamat pagi," sapa wanita di seberang.

"Halo, saya Sylvia dari Surabaya, barusan ada yang menghubungi saya ya?" tanyaku.

Setelah menanyakan nomor HP-ku, dia menjawab, "Oh, betul Dok, dari bagian PSPD (Program Studi Pendidikan Dokter). Sebentar, saya sambungkan ya."

"Terima kasih."

Deg2an menunggu. Selama beberapa bulan ini aku memang berurusan sama bagian PSPD Universitas Udayana, dan baru kali ini mereka yang menghubungiku duluan. Biasanya aku yang rutin nelponin mereka :P

"Halo, dengan dr. Sylvia?" suara di seberang berganti pemilik, tapi tetap dengan jenis kelamin sama.

"Iya, Bu, barusan telepon saya ya?"

"Iya. Dokter sedang mengajukan adaptasi di Udayana, bukan? Adaptasinya mulai Januari ya Dok. Tapi nanti antara tanggal 18-22 November ini Dokter ke sini dulu ya untuk ketemu Ketua PSPD-nya. Nanti dijelaskan detilnya, dan sekalian Dokter cari kost2-an, karena awal Desember sudah mulai pelatihan."

Setelah mencerna kalimat2 yang barusan dilontarkan oleh Ibu tersebut, dan sambil menahan excitement, aku menyahut, "Oh gitu.. Baik, Bu, nanti saya kabari lagi ya saya ke sana kapan. Terima kasih, Bu."

Begitulah kira2 percakapan singkat pagi itu. Percakapan singkat di telepon yang membuat hariku tak pernah sama lagi. I was so excited!!!

Langsung berdoa syukur ke Tuhan dan ngabarin papa & CP :D Trus langsung hectic nyari tiket PP Surabaya-Denpasar.

My life was turned upside down. Dari yang menanti tanpa kejelasan nasib, sampai tiba2 waktuku di "kampung kelahiranku" ini cuman tinggal 2 minggu. Rasanya enak banget yah mereka, maenin hidup orang kayak gitu. Dipikir ga ada kerjaan lain kali ya selain nungguin kabar dari mereka gitu.. Apalagi di saat aku udah nemuin kerjaan yang enak & I'm enjoying my life and my job. Rasanya kayak naik roller coaster. Planning hidup berubah drastis, apalagi aku adalah tipe planner, jadi ketika ada perubahan mendadak gini, aku harus langsung siapin plan lain.

Well, tapi mungkin Tuhan berkata lain. Dan aku memutuskan untuk tetap bersyukur sepenuhnya atas apa yang Tuhan sudah berikan buatku. Udah minta2 selama berbulan2, waktu dikasih kok masiihh aja tetep ngeluh, rasanya nggak tau diri banget ya aku sebagai manusia >.<

Maybe now is the time. Not last month, not the month before, but NOW. Maybe I wasn't ready. It wasn't time yet.

Tuhan menyuruhku untuk menunggu, supaya aku bisa belajar banyak hal. Kalo aku nggak menunggu, nggak akan ada postingan yang sebelum ini. Imanku nggak bertumbuh. He wants to teach me and He works in many ways and uses other people. Kalo Tuhan langsung kasih kesempatan ini tanpa menyuruhku untuk menunggu, sukacitaku mungkin nggak sebesar ini. Rasa syukurku pun mungkin nggak sebesar ini. God wants me to really lean on Him, telling me that things don't work MY way, but HIS way.

Ketika aku menunggu, aku jadi bisa melakukan banyak hal. Aku ketemu banyak orang baru, I make friends with them and learn from them. Aku bisa bekerja, dapet pengalaman ngajar, dan jadi deket sama anak2, just like I always like and want. Tuhan mempertemukan aku sama anak2 yang baik2 & nice (meskipun kadang mereka nggak nice2 banget alias nakal, hahaha) dengan orang tua yang baik2 juga. Aku jadi bisa deket sama pacar lebih lama sambil memperkuat hubungan kita, sebelum diuji sama Tuhan lewat jarak yang semakin lebar memisahkan :D

He asked me to wait, maybe because He'd not done with me yet in Surabaya.

See? Di dalam Tuhan, nggak ada yang namanya worse atau the worst. He always gives the best! Aku berharap Maret, tapi Tuhan kasih lebih cepet. Memang keliatannya timingnya kurang pas, karena aku jadi harus ninggalin murid2ku padahal belum lama aku mulai ngajar mereka, dan di saat aku udah mulai enjoy & deket sama mereka. Tapi mungkin Tuhan nggak mau aku jadi terlalu nyaman trus jadi nggak menyelesaikan pendidikan dan karirku di bidang kedokteran. Apapun itu, kita memang nggak akan bisa sepenuhnya mengerti rencana Tuhan. Tugas kita hanyalah percaya, take chances, and let Him guide.

"Have I not commanded you? Be strong and courageous. Do not be terrified; do not be discouraged; for the Lord your God will be with you wherever you go." -Joshua 1:9

So... Next week, I'm going to Bali and staying for three days untuk pelatihan. Abis itu aku masih balik lagi ke Surabaya selama 10 hari, baru abis itu tinggal di Bali seterusnya selama kurang lebih 9 bulan. Again, bittersweet. Pengen cepet2 mulai dan selesaiin adaptasinya, tapi juga ngga pengen pisah apalagi sama pacar =P

Please pray for me so that everything will go well yaaa.. I'll update again soon.

Have a nice day and God bless! :)

2 comments: