Thursday, April 30, 2015

First Post in 2015: Part 1

大家好!

Apa kabar nih semuanyaa? ^^

Gila juga yah, first post in 2015-ku jatuh di akhir April. Hehehehe..
Merry Christmas, Happy New Year, Happy Chinese New Year, and Happy Easter to you all!
Telat banget yakk hahaha.. Aku rapel semuanya jadi satu =p

Well.. Meskipun "baru" memasuki bulan ke-4 tahun ini, tapi aku sudah dapat banyak sekali berkat dan mukjizat dari Tuhan. Dan postingan pertamaku di tahun 2015 ini aku dedikasikan untuk menceritakan tentang segala Kebaikan dan Penyertaan-Nya kepadaku.

I'm bringing you good news! :)

*Anyway.. Jangan bosen yah dengerin cerita perjalananku memperjuangkan karirku sebagai dokter.. Please do tell me if I bore you! Hehehe..*

Seperti di beberapa post yang lalu, aku lebih suka menguraikan dalam bentuk poin-poin, demi menghindari paragraf-paragraf panjang that might bore you guys, hehe..

So, these are the steps of the process:

1. Adaptasi

Di negara manapun, bila mau jadi dokter tapi bukan lulusan negara tersebut, harus melalui yang namanya proses adaptasi. Biasanya dalam bentuk mengikuti dan lulus BOARD EXAM (Ujian Kompetensi dari negara) negara yang bersangkutan. Postingan-postingan berisi cerita tentang perjuanganku untuk adaptasi di Indonesia bisa dilihat di label "adaptasi dokter luar negeri".

2. UKDI (Uji Kompetensi Dokter Indonesia, board exam-nya Indonesia)

Singkat cerita.. Dengan perantaraan Tuhan, aku lulus UKDI. Yay! =p
Januari 2013 lulus dari Tiongkok, Desember 2013 mulai adaptasi di Universitas Udayana, Bali. September 2014 selesai adaptasi, dan November 2014 lulus UKDI.

Tapi, perjalanan nggak berhenti di sana.. Masih panjang, malah.

Setelah lulus UKDI, kita masih harus nunggu Sertifikat Kompetensi (Serkom) yang menyatakan bahwa kita sudah lulus ujian. Serkom itu nanti dibawa kembali ke universitas sebagai syarat untuk disumpah sebagai seorang dokter. Awalnya agak kesel juga karena masih harus disumpah lagi, padahal dulu di Tiongkok kan aku udah disumpah. Tapi apa daya, karena untuk mengurus surat-surat berikutnya, dibutuhkan surat bukti sumpah dokter dari universitas. Nyambung terus pokoknya prosesnya. Kalau ga dilewatin tiap tahapnya ga akan bisa.

3. Sumpah Dokter

So.. Aku telepon pihak universitas untuk menanyakan jadwal Sumpah Dokter. Karena aku dan temen2 dokter adaptasi cuma bertiga, kami berharap bisa ikutan Sumpah Dokter bareng junior2 yang lain. Agak ribet dan mahal kalau harus ngurus Sumpah Dokter sendiri bertiga.

Akhir Januari aku telepon Universitas Udayana, dengan posisi Serkom kami masih belum keluar. Padahal udah nungguin dari awal Desember. Pihak universitas menyuruhku untuk telepon lagi awal Februari, karena kemungkinan Februari ada jadwal sumpah.

Sampai awal Februari, Serkom kami akhirnya siap untuk dikirim ke alamat rumah kami masing2. Kemudian aku telepon universitas lagi. Dan ternyata memang ada jadwal Sumpah Dokter tanggal 11 Februari. Dan aku telepon itu tanggal 4 atau 5 Februari! Bener2 hectic banget, mepet banget tapi timingnya pas banget! Langsung ngurus semua berkas, dan tanggal 9 nya harus sudah ada di Bali untuk GR. Sedangkan tanggal 8 Februari ada weddingnya temen baikku dan aku jadi bridesmaid.

Semuanya diurus dalam waktu yang super singkat. Kebaya pun pakai kebaya lama waktu Sumpah Dokter di Tiongkok dulu. Untung masih ada, hahaha.. Tinggal dipermak dikit karena sekarang kurusan dibanding dulu hihihi..



Note: Ternyata sebenernya, kita ga perlu nunggu Serkom jadi untuk bisa disumpah. Sambil nunggu Serkom jadi, IDI kasih kita SKTL (yang kemungkinan merupakan singkatan dari Surat Keterangan Tanda Lulus). SKTL itu bisa dijadikan bukti bahwa kita sudah lulus UKDI dan bisa disumpah oleh pihak universitas. Tapi waktu aku kemarin, entah kenapa aku ga dapet SKTL itu dan bener-bener nungguin sampe Serkom jadi. Kok untung timingnya pas. God is good, indeed!!

Setelah disumpah (lagi), aku ngurus yang namanya STR (Surat Tanda Registrasi) Sementara.
Sekali lagi, jangan dikira perjalanan sudah selesai.Kami masih harus mengikuti tahap berikutnya, yaitu:

4. Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI)

Yup, aku ga salah ketik kok. Memang "internsip" instead of "internship", hahaha.. Maklum, ini versi Indonesia-nya. Tapi artinya sama, yaitu "magang".

Ceritanya bersambung ke next post yaaa, biar nggak kepanjangan dan kalian jadi bosen bacanya, huehehhe..


Part 2
Part 3

2 comments:

  1. salam kenal..
    terima kasih atas blognya yang memberikan heads-up untuk program adaptasi dokter di Indoensia
    sangat membantu

    ReplyDelete