Sunday, December 18, 2016

Hai C,

Apa kabarmu?

Sudah lama ya, sejak terakhir kita berkomunikasi? Aku berharap kamu baik-baik saja. Aku sungguh-sungguh, lho. Aku memutus komunikasi kita bukan karena aku marah atau benci, tapi itu semua demi kebaikanmu dan kita berdua.

Teruslah melangkah dan jangan menoleh ke belakang, C. Aku telah pergi. Aku tak lagi di sana. Aku bukan lagi sosok yang mendorongmu & menyemangatimu dari belakang seperti saat itu. Hatiku tak lagi berdetak untukmu & mulutku tak lagi menyebut namamu.

Oh iya, kalau kamu masih buka blog-ku & baca tulisan-tulisanku yang lainnya, lalu kamu menemukan seseorang disebut di sana, aku harap kamu tahu bahwa kamu bukan lagi seseorang yang aku maksud itu.

Aku mungkin terdengar kejam, ya? Maafkan aku. Sekali lagi, ini demi kebaikan kita bersama.

Teruslah melangkah dan jangan menoleh ke belakang, C. Jalani hidupmu dengan bahagia, & temukan seseorang yang lain untuk kau bagi kebahagiaanmu dengannya.

Sekarang aku di sini, tak lagi sama, tak lagi di sana untukmu.

Semoga kita berdua bahagia selamanya. Amin :)


                                                                                  S

Sampai kapan?

Pernahkah kau berada dalam situasi di mana berjuang menjadi sama beratnya dengan menyerah?

Ketika otakmu tahu bahwa kau harus berhenti, tapi hatimu terlalu sulit untuk melepaskan. Namun terlalu lelah dan menyakitkan pula untuk bertahan, apalagi berjuang.

Ketika semua logika dan teori yang ada mengajarmu untuk mundur dan berhenti menyakiti hatimu sendiri, tapi hatimu begitu keras kepala dan lemah untuk bisa melepaskan dia.

Mengapa mencintainya begitu berat?

Mengapa dipertemukan dan ada rasa yang begitu besar terhadap satu sama lain, bila tidak ditakdirkan untuk bersatu?

Ketika bersamanya begitu membahagiakan, tapi juga begitu menyakitkan.
Ketika mencintainya lebih besar daripada mencintai diri sendiri.

Aku memilih bahagia itu. Bahagia bersamanya, walau tiap detiknya sama dengan tiap goresan luka di hatiku.

Hanya satu yang ku tak tahu:
Sampai kapan hati ini sanggup bertahan, sebelum akhirnya berhenti dan mati?


Kapan Aku Mulai Mencintaimu?

Kalau kuingat-ingat lagi, aku tidak tahu kapan aku mulai mencintaimu.

Yang ku tahu hanya, awalnya aku kagum padamu.
Pada skill-mu yang di atas teman-temanmu.
Pada pengetahuanmu yang luas, tapi di saat yang bersamaan, kamu tetap menaruh respek dan kepercayaan pada orang lain. Padaku, tentu saja, yang tidak tahu lebih banyak darimu.

Kagum pada caramu bicara, yang tidak banyak, tapi sekalinya bicara langsung mengena.
Pada caramu bercanda, yang tidak pernah gagal membuat orang tertawa.
Pada auramu yang membuat semua orang menyukaimu.
Pada senyummu.
Wangi khasmu.
Hadirmu.

Ya..
Tanpa kusadari, aku menantikan saat-saat berjumpa denganmu.
Mencari hadirmu.
Tersenyum sendiri saat melihat ada pesan BBM darimu.
Pergi menghabiskan waktu berdua denganmu.
Mendengar cerita-ceritamu. Tentang keluargamu. Masa lalumu. Apa saja.

Apa saja, asal sama kamu.


Kalau kuingat-ingat lagi, aku tidak tahu kapan aku mulai mencintaimu.

Saturday, July 2, 2016

Tentang Cinta

"Cinta tidak harus memiliki."

Familiar sama kalimat di atas?

Aku sangat sering mendengarnya. Membacanya. Di mana-mana. Tapi aku nggak pernah ngerti. Aku nggak pernah bisa mempraktekkannya.


Aku nggak ngerti. Karena tiap kali aku mencintai seseorang, aku selalu ingin memiliki. Aku nggak tau bagaimana cara mencintai tanpa disertai dengan adanya keinginan untuk memiliki. Aku bisa melakukan hal-hal yang selayaknya dilakukan oleh orang yang sedang mencinta, aku akan berusaha melakukan apa yang aku bisa demi dia, dengan setulus hatiku, kecuali melepaskannya. Lalu, apakah itu artinya aku nggak benar-benar mencintainya?

Aku nggak tau caranya melepaskan orang yang aku cintai. Wellunless he doesn't feel the same way, of course. Itupun pasti didahului dengan rasa ingin memiliki, tapi karena disertai dengan penerimaan bahwa dia nggak punya perasaan yang sama terhadapku & pemahaman bahwa cinta tidak bisa dipaksakan, akhirnya aku merelakan. Aku bisa melepaskan. Kemudian membiarkan perasaan itu pergi. Dan hilang.

Ya, bagiku, baru bisa benar-benar melepaskan seseorang ketika aku sudah tidak mengharapkannya & sudah merelakan cinta itu untuk pergi.

Benar, cinta tidak bisa dipaksakan. Cinta tidak bisa disalahkan. Tapi bagiku, cinta selalu ingin memiliki. Does it make my love any less? Does it mean that my love isn't true?

Setelah bertahun-tahun berpikir - sambil setengah menyalahkan diri sendiri karena aku "tidak bisa benar-benar mencintai dengan tulus karena aku selalu ingin memiliki orang yg aku cinta" - I finally came to a conclusion.

Cinta adalah sebuah perasaan. Cinta itu untuk dirasa, bukan untuk dimengerti. Cinta tidak perlu penjelasan, deskripsi, ataupun aturan-aturan yang dibuat oleh manusia. Karena Cinta itu sendiri adalah hukum. Hukum Cinta Kasih. Cinta memiliki banyak rupa, banyak cara, banyak jenis, yang tidak mengurangi atau mengubah arti dari Cinta itu sendiri. Perhatian, mengatur, cuek, melepaskan, memiliki; Setiap pribadi manusia memiliki caranya sendiri untuk mencintai. Selama masih menganut Hukum Cinta Kasih dan tidak menyakiti orang yang kita cintai, maka Cinta adalah Cinta.

Dan beginilah caraku mencintaimu. Ingin selalu bersamamu. Ingin berbagi denganmu. Ingin menjadi bagian dari hidupmu. Menjadi yang terbaik untukmu. Tanpa sedikit pun keinginan untuk melepasmu.. Selama kau pun begitu.

Namun.. Bila kau tak lagi melakukan yang sama, atau bila suatu hari nanti, aku sudah terlalu lelah, mungkin.. MUNGKIN, aku akan melepasmu. Yang jelas tidak sekarang. Karena aku masih belum sanggup. Entah sampai kapan.

Dari seseorang yang mencintaimu dengan tulus dan tak sanggup melepasmu.


Inspiration: #AboutLove by Tere Liye